[Flowers Kill, Flowers Heal] Nightingale

nightingale-poster

Casts Choi Seonghwan [BOYS24] Genre Dystopia Length Vignette Rating PG-17 Disclaimer I own the plot

© 2016 namtaegenic

:::

SATU

 

Aku punya permainan seru untukmu.

Judulnya Nightingale.

Peraturannya hanya satu.

Temukan, temukan yang bukan mereka.

 

Pada masa restorasi usai Perang Bumi ke-24, terdapat sebuah tembang urban yang terkenal di Unit II, judulnya Nightingale. Tidak ada yang tahu siapa yang menciptakannya, sajak itu meluncur dari mulut ke mulut, milik satu anak ke anak-anak lainnya, tanpa tahu bagaimana nada aslinya. Nightingale kerap ramai berkumandang pada tujuh hari festival menyambut Hari Kemerdekaan Unit II, dinyanyikan oleh semua anak berusia 5-13 tahun. Seraya menyanyikannya dengan intonasi yang berbeda-beda, mereka duduk berjajar sepanjang tepian jalan rumah-rumah penduduk, dan saling merangkul. Dibandingkan dengan Unit I, Unit II masih bersikeras bahwa Lily of the Valley—bunga yang dulu dijadikan simbol pemerintahan kedua unit—harus tetap dibiakkan di Hutan Ultra. Pada bulan Mei, masa dimana Lily of the Valley sedang merekah, burung Nightingale akan kembali ke hutan Ultra, membawakan senandung magis yang membantu mempercepat masa panen. Petani Unit II hanya diizinkan untuk menanam padi hasil mutasi dari Kementrian Kesejahteraan Rakyat yang terletak di Unit I.

Pascaperang yang melibatkan seluruh orang Bumi, planet tak lagi seramah dulu. Asap dan gelap menyelimuti bagian-bagian Bumi seakan mereka kembali pada masa Revolusi Industri. Ratusan penduduk meninggal dunia akibat penyakit paru-paru akut—didominasi oleh manula dan anak-anak. Pada akhirnya, kabinet yang selamat, menyusun sistem pemerintahan baru dengan membagi Bumi menjadi dua unit di bawah kepemimpinan seorang presiden. Mereka berpusat di Unit I, tempat di mana teknologi kembali dikembangkan. Sementara itu, Unit II ditentukan sebagai daerah pedesaan—lebih karena mereka tidak diberi hak mengemukakan pendapat, dan hanya diizinkan untuk mengirim pemimpin unit ke pusat untuk mengajukan permintaan—biasanya berupa sandang, pangan, dan papan. Para penduduk Unit II tidak diizinkan memiliki rumah yang lebih mewah dari yang lainnya. Mereka ditempatkan di bangunan-bangunan berderet dengan bentuk serupa, bahkan tanpa atap solar system. Sementara itu, Unit I menikmati kejayaan dengan berhektar-hektar kompleks hunian bergaya dekonstruktif—atau apa pun yang mereka inginkan.

Unit I dan II sudah membuang simbol Lily of the Valley sejak lama. Tanaman tersebut tak lagi dikembangbiakkan usai pemasangan tanaman buatan yang dapat mengolah air hujan di Hutan Ultra. Bagi orang-orang di Unit I, korelasi antara Lily of the Valley dengan burung Nightingale hanyalah legenda. Kalaupun teori alam mengatakan demikian, Lily of the Valley adalah tanaman yang dilarang.

Namun segala sesuatu yang dilarang tentunya memiliki maksud.

Choi Seonghwan memiliki seorang teman yang tinggal di Unit I, namanya Hitomi Konno. Nenek moyang Hitomi orang Jepang, dan biarpun ayahnya yang bekerja di Kementrian Vegetasi dan Pangan kerap bertingkah bak orang barat, mereka tetap meneruskan klan Konno. Hitomi mengaku salah satu kakeknya dulu adalah ninja. Tapi ketika ditagih almanak sejarah dan silsilah, ia berdalih. Hitomi Konno memang pembual nomor satu. Barangkali alasan satu-satunya ia mau berteman dengan Seonghwan dari Unit II, adalah karena anak-anak Unit I menghindarinya.

“Oi, Seonghwan. Tahu tidak, kenapa mereka melarang penanaman Lily of the Valley?” tanya Hitomi suatu hari, saat ia dan Seonghwan berada di luar gedung olahraga pada Pekan Olahraga Unit. Usai meneguk air mineralnya, Seonghwan menggeleng. Tapi ia menduga akan ada dongeng baru lagi yang meluncur dari mulut sahabatnya itu.

Lily of the Valley itu beracun sampai ke seluruh bagiannya!”

“Bibiku yang buta huruf juga tahu!”

“Tapi kau tidak tahu bahwa ….” Hitomi sengaja menggantungkan kalimatnya, menantikan antusiasme dari Seonghwan. Pemuda itu hanya melirik. “Bahwa apa?”

“Belikan aku stroberi cokelat beku dulu!”

Seonghwan membuang pandangan. “Rasa penasaranku lenyap sudah.”

“Ya ya ya baiklah,” Hitomi akhirnya menyerah. Ia memangkas jarak dan membisikkan sesuatu ke telinga Seonghwan. “Monopoli.”

“Hah?” Seonghwan menjauhkan telinganya dari jangkauan Hitomi dan memandang gadis itu dengan dahi berkerut. Hitomi mengangguk, kali ini wajahnya tidak menampilkan gurau dan sebagainya. Ia hanya menerawang, lantas membalas tatapan Seonghwan. “Lily of the Valley makin langka di masa restorasi ini. Padahal selang satu perang sebelum ini, tanaman itu diolah menjadi senjata biologis dan digunakan secara bergerilya—baca buku sejarah Unit, tidak? Mereka mencampurkan olahan antara Lily of the Valley dan campuran zat lain yang menghasilkan racun paling berbahaya kala itu, lalu mereka mengutus seseorang untuk menyelinap dan menuangkan larutan itu ke panci sup di dapur musuh. Boom! Mati semua!” Hitomi mengakhiri kisahnya dengan menggerakkan kedua tangannya seakan baru saja meledakkan bom asli. Lantas ia terbahak ketika Seonghwan meringis sebal.

“Apa hubungannya dengan monopoli?”

Ekspresi Hitomi kembali menggelap seiring dengan tawanya yang reda. Ia lantas meloloskan tawa pahit. “Ayahku bilang, Unit I akan memonopoli seluruh bibit Lily of the Valley untuk ditanam di tanah milik pemerintah, alih-alih di Hutan Ultra di perbatasan.”

“Bukankah pemerintah sendiri yang memberikan larangan soal pembiakan Lily of the Valley?” Seonghwan tidak memaksudkan sebaris intonasi yang tinggi, tapi apa yang didengarnya saat ini benar-benar mencuri segala kuriositasnya.

“Choi Seonghwan ….” Hitomi menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyunggingkan senyum sarkastis. “Perlu berapa tahun kau hidup di bawah pemerintahan Unit I hanya untuk menyadari bahwa mereka tak lebih dari akar tanaman busuk? Mereka tidak pernah benar-benar melarang penanaman Lily of the Valley. Mereka melarangnya ditanam sembarangan. Tahukah kau bahwa orang-orang pemerintahan selalu masuk pengecualian? Tahukah kau sudah berapa petak tanah pemerintah yang ditanami Lily of the Valley?”

Kini Seonghwan tak lagi mengabaikan celoteh gadis di sampingnya ini. Ia melepaskan punggungnya dari sandaran dinding, lantas menatap sahabatnya nanar. “Kau bercanda, kan?”

“Sekarang? Tidak. Jadi dengar aku baik-baik,” Hitomi memastikan bahwa di sekitarnya tidak ada orang lain—terutama orang-orang pemerintahan. “Ketika mereka sudah berhasil membiakkan banyak Lily of the Valley, mereka akan melakukan penyerangan gerilya menggunakan racun dari ekstrak tanaman itu—pada Unit II, pada kalian, oke?”

“Kau gila—“

Hitomi mencengkeram kerah baju Seonghwan, binar matanya memancarkan gelombang emosi. “Rencana A, mereka akan mencari orang-orang Unit II yang mendukung sistem Unit I, lalu menarik mereka. Para pendukung sistem dinamakan Nightingale. Sisanya, ikut rencana B.”

“Dan rencana B adalah …?” Seonghwan tidak berani mendengarnya, tapi ia bertanya juga.

“Mati.”

:::

DUA

 

Aku punya permainan seru untukmu.

Judulnya Nightingale.

Peraturannya hanya satu.

Temukan, temukan yang bukan mereka.

 

 

Lagu itu lebih terdengar seperti dengung lalat buah di benak Seonghwan. Ini malam keempat sebelum perayaan kemerdekaan dan anak-anak itu masih menyanyikan liriknya dengan gembira, padahal kepala Seonghwan terasa akan pecah tiap kali kata nightingale diucapkan. Sejak percakapan terakhirnya dengan Hitomi dari Unit I, ia tak pernah bisa melewatkan semalam saja tanpa menyusun rencana. Choi Seonghwan bukannya kesatria yang akan menerjang Unit I seorang diri, tapi paling tidak ia bisa menyebarkan rencana tersebut pada orang-orang Unit II, terutama keluarganya. Barangkali mereka bisa kabur, tapi ke mana? Tidak ada pilihan selain bergabung dengan pemerintah.

Atau.

Atau.

Ah benar sekali! Mengapa tidak pernah terpikirkan oleh Seonghwan bahwa justru mereka bisa menyusun rencana brilian, seperti pura-pura setuju bergabung dengan pemerintah, lalu … lalu … membalikkan serangan Lily of the Valley itu pada mereka? Mengapa tidak mereka saja yang diberikan pilihan hendak menjadi Nightingale yang kembali saat Lily of the Valley merekah, atau tidak?

Seonghwan harus memberitahu orang-orang yang ia percayai. Keluarganya, tentu saja. Tapi tunggu, keluarganya tentu saja harus diselamatkan. Tapi sebelumnya, Seonghwan harus memberitahu orang yang paling ia percayai dahulu untuk saat ini.

:::

 

TIGA

 

Aku punya permainan seru untukmu.

Judulnya Nightingale.

Peraturannya hanya satu.

Temukan, temukan yang bukan mereka.

 

 

“Oh, seakan aku tidak akan bisa melewatkan satu hari pun tanpa mendengarkan lagu itu!” Hitomi bergidik sebal ketika Seonghwan membukakan pintu untuknya. Kedua muda-mudi itu duduk berhadapan di ruang tamu keluarga Choi dan Seonghwan menghidangkan biskuit serta dua cangkir teh untuk mereka. Hitomi tergelak dan berbasa-basi bahwa Seonghwan tidak perlu repot-repot. Si pemuda ikut tertawa dan mengatakan bahwa hanya inilah yang bisa disuguhkannya untuk tamu dari Unit I.

“Jadi, pasti ada udang di balik undangan,” Hitomi menggigit kepingan biskuitnya dan mengunyahnya lamat-lamat. Seonghwan mengangguk. “Aku sudah memikirkannya, Hitomi. Soal … peringatanmu. Sudah kuputuskan bahwa aku yang akan jadi Nightingale-nya. Aku juga sudah membujuk anggota keluargaku, dan mereka semua setuju untuk menjadi Nightingale.

Hitomi berhenti mengunyah. Ia menatap Seonghwan dengan sorot mata penuh iba dan kesedihan. Ia meletakkan sisa biskuitnya di tatakan cangkir teh, dan menarik jemari Seonghwan untuk digenggam.

“Maafkan aku, tapi kurasa itu pilihan tepat,”  ujar Hitomi lirih. “Tapi bagaimana bisa kau berubah pikiran?”

“Entahlah.” Seonghwan mengangkat bahu, lalu menyesap tehnya. “Aku hanya ingin keluargaku selamat. Kautahu, Hitomi, kami ingin hidup lebih lama. Aku merasa harus membicarakan hal ini pada orang yang paling kupercayai selain keluargaku. Orang-orang dari Unit I ….”

Hitomi menghabiskan biskuit dan mereguk tehnya. Unit II masih menjual kantong teh yang isinya racikan kuno zaman nenek moyang. Rasanya enak dan alami.

“Ah, kautahu aku tidak suka disanjung.”

Seonghwan terkekeh, lantas menggeleng. “Bukan kau.”

Dahi Hitomi berkerut. “Lalu?”

“Tuan Konno yang terhormat.”

“Kau bicara pada ayahku?!” Hitomi terlonjak dari bangkunya. Kini wajahnya tak lagi seceria tadi. Air mukanya kini penuh kewaspadaan. Seonghwan menyesap tehnya lagi. “Cuma lewat Portalex. Biar kuingat, waktu itu namaku Hibiki Aizawa, saudara jauhmu.”

Hitomi membelalak lebar. Semalam dirinyalah yang menerima panggilan non-video dari Portalex keluarganya, dan seseorang yang menyebut dirinya sebagai saudara jauh mereka meminta bicara pada ayahnya. Tanpa kecurigaan, Hitomi memberikan Portalex tersebut dan tidak lagi memerhatikan apa yang ayahnya bicarakan. Apa pun yang ada di antara sesama saudara jauh hanyalah temu kangen, ya kan?

“Ayahmu dan ‘Paman Hibiki’ ini mengobrol mengenai Nightingale. Dan coba tebak, Hitomi? Ayahmu tidak tahu apa-apa mengenainya, kecuali bahwa Nightingale adalah klub yang kaubentuk dengan izin pemerintah—klub pengembangbiakan Lily of the Valley. Tanpa perlu kupancing lagi, si Konno itu dengan ringannya mengatakan bahwa atas ide sinting tapi brilianmulah Unit I akan bisa menyaring kami. Semuanya idemu, termasuk ancaman mengenai tanaman itu.”

“Jangan ngawur!” Hitomi mengibaskan tangannya, tenggorokannya serasa tercekik. “Jadi buat apa kubongkar rencana itu padamu?”

“Karena kaupikir aku hanya punya dua pilihan. Dan aku jelas tidak akan memilih kematian. Kau, otak baru di balik penyerangan berikutnya.”

Hitomi meringkuk. Badannya terasa panas sekaligus dingin.

“Jadi, Hitomi ….”  Seonghwan memperkecil spasinya, matanya menatap Hitomi dalam-dalam. “Bagaimana rasanya jadi orang pertama yang mencicipi teh Lily of the Valley racikanku sendiri?”

Pertanyaan Seonghwan dijawab tuntas oleh suara muntah dan ambruknya Hitomi dari bangku. Gadis itu menggeliat dan menerjang kaki meja. Entah apa yang terjadi padanya di dalam sana, tapi Hitomi tampaknya sedang meregang nyawa. Mendekatinya, Seonghwan tersenyum pahit.

“Aku punya permainan seru untukmu. Judulnya Nightingale. Peraturannya hanya satu.” Seonghwan menyeka bekas muntahan Hitomi di sudut bibir gadis itu. “Temukan, temukan yang bukan mereka.”

FIN.

Namtaenote:

Aku yakin ceritaku membingungkan, jadi biar kujelaskan. Ada legenda mengenai Lily of the Valley, bahwa pada bulan Mei, dimana mereka lagi mekar-mekarnya, burung Nightingale akan kembali. Jadi di sini, aku menggunakan Lily of the Valley (yang mana emang bunga yang kupilih) secara harfiah dan metafora. Harfiahnya sudah jelas ya, dipakai sebagai senjata. Secara metaforanya, menggambarkan bahwa baik Seonghwan maupun Hitomi itu ternyata sama-sama berbahaya (karena menurut artikel yang kubaca, Lily of the Valley itu seluruh bagian tanamannya beracun). Makna lagu Nightingale (ini ngarang-ngarang sendiri jadi maaf kalo ngga nyambung) itu sendiri nggak hanya satu arah, tapi dua arah—antara Seonghwan dan Hitomi. Bisa dilihat pada lirik terakhir, “Temukan, temukan yang BUKAN MEREKA” yang menganalogikan Nightingale sebagai “yang kembali ketika Lily of the Valley merekah”, dan sisanya adalah pemberontak atau yang berlawanan. Honestly, legenda Lily of the Valley sama Nightingale itu bukan berarti Nightingale-nya nyamperin si bunga sih, tapi anggap aja demikian hahaha.

This is a lame excuse, tapi aku kena writer’s block parah, dan maaf banget kalo jadinya malah membingungkan. Anyway aku suka banget nama Nightingale, makanya kujadiin URL blog baruku. Not to spread the URL because isinya some PG-17 slice of life stories.

Iklan

9 tanggapan untuk “[Flowers Kill, Flowers Heal] Nightingale

  1. senangnyaaa baca tulisan kak eciii idenya selalu seger kayak abis mandi ❤ ❤ ❤ btw aku baru mudeng setelah baca dua kali kak huhu emang dasarnya otaknya ga nyampe :") aku bahkan awalnya ngira hitomi itu cowok :"))) personally aku lebih seneng baca cerita kak eci yang genrenya cinta-cintaan gemas, but still ini keren sekaliii! tetap menulis ya kak 🙂

    Suka

    1. halo nadya! iya nad, ini memang membingungkan hehehe aku kejebak writer’s block makanya lari ke distopia (dimana aku bisa ngarang-ngarang banget sama dunia barunya jadi ngga perlu survey geografis hehehe) makasih nadya sudah mampir yaaa ❤❤❤

      Suka

  2. halo nadya! iya nad, ini memang membingungkan hehehe aku kejebak writer’s block makanya lari ke distopia (dimana aku bisa ngarang-ngarang banget sama dunia barunya jadi ngga perlu survey geografis hehehe) makasih nadya sudah mampir ❤❤❤

    Suka

  3. KAK ECI SUNGGUH AKU TERENYUH DENGAN CERITAMU.

    Awalnya aku rada bingung karena banyak istilah aneh (bikos akunya rada oon) tapi makin ke bawah makin jelas dan DAMN! KAK AKU BACA CERITAMU BERASA LAGI BACA NOVEL SEMACAM MAZE RUNNER APA HUNGER GAMES GITU. APIK.

    Dan makin masuk ke ending, seriusan, aku merinding mbaaaa. Yokshi uri sunbaenim huft kamu luar biasa kak, fix dd ngefans sama kamu heu

    Bagiin tips dong mba biar bisa nulis se-ketjeh ini kyaaaa LOVE YA KAK ECI😘😘😘

    Suka

    1. halo aayy! sebenernya nulis distopia ini karena aku kena writer’s block, dimana aku ga punya ide lagi buat nulis apa pun dan berakhir nulis distopia (karena kalo distopia kan dunia kita karang-karang sendiri ga perlu survey geografis lokasi hehehe). dan iya sih, memang membingungkan whehehe btw tips apa toh mba ay tipsnya hanyalah banyak-banyak referensi alias baca novel nonton film dll hohoho kujuga masih amatir tenang saja.
      makasih ay sudah mampir ^^

      Suka

  4. kaeci, halo~ ini tadi aku lagi nyari baca2an terus mampir ke sini 😀

    dan, kayaknya mataku lagi sehat kak, itu aku ngga salah baca di note kalo kakak kena writer’s block parah? ini idenya keren banget dan di ending aku sempet speechless……… jadi, hitominya diracun sama seonghwan dan mati?
    tapi, aku masih ngga ngerti sama yang ini “Temukan, temukan yang bukan mereka.” padahal aku udah baca note kaeci berulang kali tapi masih ngga paham juga /iya soalnya echa bego lemot juga kak, sebelas duabelas sama yang punya penname ayshry itu/ XD

    tapi overall, aku suka ceritanya dan genre2 kaya begini.
    sukses terus ya kaeci ❤

    Suka

    1. halo, echa! iya jadi kan di sini, menganalogikan nightingale yang kembali (entah kembali ke mana) ketika lily of the valley mekar itu, makanya yang menuruti pemerintah unit I itu berarti nightingale. ibaratnya, pemerintah itu punya kebun lily of the valley kan, nah yang nurut sama mereka berarti nightingale-nya. dan yang di luar itu, berarti pemberontak. temukan yang bukan mereka, berarti temukan pemberontaknya, lalu habisi.
      di sini, seonghwan membalik sistem. karena somehow dia ternyata punya lily of the valley juga. dialah lily-nya, dan penduduk yang akan jadi korban adalah nightingale. dan hitomi dari unit I jelas musuh besar dalam selimut, berarti dia bukan nightingale versi seonghwan. makanya seonghwan di sini menghabisi hitomi (rencana hitomi membahayakan dia dan keluarganya seandainya mereka ngga mau mengikuti sistem, kan).
      tapi cerita ini memang membingungkan sih, cha, hehehe. btw makasih echa sudah mampir ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. oohhh, dan akhirnya aku sedikit mengerti kak /plak/ seonghwan bunuh hitomi karena dia pemberontaknya, ya pokoknya gitu kan kak?
        wakaka, membingungkan tapi ini seru. idenya kaeci ini ngga mainstream dan unik 🙂
        ehehe, makasih atas penjelasannya ya kaakk ^^ maaf udah bikin kaeci ngetik segitu banyak lagi 😀

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s