[Vignette] Of This Brand New Trip

of-this-brand-new-trip

Casts Jung Yeontae [BOYS24], Kei [LOVELYZ] Genre Slice of life, fluff Length Vignette Rating PG-15

© 2016 namtaegenic

:::

“Hei, Jung Yeontae—“

“Aku tiga tahun lebih tua darimu. ‘Kak Yeontae’, atau aku tidak akan menanggapi.”

Dari posisi L dan duduk berhadapan dengan Yeontae, Kei berdecak. Pemuda itu sudah terlalu banyak menyuruh-nyuruh dan Kei paling tidak suka seseorang menentukan apa yang seharusnya ia lakukan lantas menghakimi. Apalagi kalau orang itu adalah Jung Yeontae. Terutama kalau orang itu adalah Jung Yeontae.

“Terserah. Jadi kapan kita mau pergi? Aku sudah mandi dan aku bahkan sudah lupa bahwa aku sudah mandi,” Kei menggerutu, lantaran ia mencoba untuk sangat tepat waktu. Dan ketika ia sudah repot-repot bangun pagi, mengemasi bekal untuk rencana bepergian mereka hari ini, mandi, mengeringkan rambut, menyemprotkan parfum, dan mengecek ulang barang-barangnya sebelum menyeberang ke rumah Yeontae—pemuda itu malah masih bergulung di sofa ruang tamunya, tampak serius menatap PSP-nya. Lalu, seakan ia tidak punya kesalahan yang harus ditebus, ia malah memamerkan permainan baru yang disuntikkan ke benda itu, “Game baru!”

Omong-omong, Yeontae akhirnya bersiap-siap juga. Menuruni tangga menuju ke ruang tamu, ia kembali dengan kaus putih berbalut jaket parka warna beige. Lantas ia menarik kedua lengan jaketnya hingga siku. Lumayan. Lumayan tampan dan lumayan membuat Kei gagal memalingkan muka.

Kedua tetangga itu berjalan beriringan menuju halte dan mengambil bus ke arah Mapo. Perjalanan yang cukup jauh itu tadinya diisi dengan suara mesin, hingga tiba-tiba Yeontae menyikut lengan Kei. Menoleh, gadis itu mengikuti arah telunjuk Yeontae ke luar jendela. Namun ia tidak melihat apa pun yang kira-kira spesifik dan perlu diamati.

“Lihat apa, sih?” alis Kei bertaut. Alih-alih, Yeontae malah menahan tawa dan menggeleng. Lalu katanya, “Tidak ada apa-apa. Tapi coba kaulihat penumpang lain.”

Kei mengedarkan pandangannya ke seluruh bus. Berpasang-pasang mata kini ikut-ikutan melihat ke luar jendela, tepat ke arah di mana Yeontae menunjuk.

“Tidak peduli ada sesuatu atau tidak,” ujar Yeontae, “semua mata akan refleks menoleh ke arah yang kita tunjuk. Itu namanya reaksi publik. Kocak, kan? Mau coba?” tanya Yeontae.

Mempertimbangkan perjalanan yang masih beberapa kilo lagi, Kei pikir tak ada salahnya iseng. Lantas, dengan kepercayaan diri, telunjuknya melayang ke seberang koridor bus, ke jendela deret sebelah.

“Yang itu mirip Jang Donggeun!” seru Kei pada Yeontae. Serentak bak dikomando, seluruh penghuni bus secara otomatis melihat ke arah yang ditunjuk Kei. Tapi tidak ada seorang pun di jalan sana yang mirip Jang Donggeun—yang ada hanya segerombolan ibu-ibu yang tampaknya baru pulang dari acara senam bersama.

Terjebak di antara keadaan dimana ia ingin menahan tawa atau justru melepaskannya, Kei akhirnya berpaling pada Yeontae yang sudah lebih dulu menertawakannya. Reaksi publik ternyata bisa juga dijadikan bahan observasi sekaligus pembunuh waktu.

“Jangan tertawa lagi, Jung Yeontae, aku berusaha berhenti!” desis Kei dengan mata berkaca-kaca. Butuh waktu sekitar lima detik agar mereka benar-benar tak lagi tergelitik. Usai jeda, Yeontae melirik Kei. “Kau daritadi diam saja, sih,” ujarnya.

Bus mereka tiba di halte pertama di Mapo. Kei dan Yeontae turun dan pemuda itu menunjukkan jalan yang harus mereka telusuri dulu sebelum tiba di tujuan. Tidak jauh, lagi pula Yeontae mengambil alih ransel Kei agar gadis itu tidak kelelahan. Mereka berhenti di sebuah rumah sakit khusus anak, melapor pada dua orang sekuriti, dan masuk lewat jalan belakang.

Seorang wanita cantik berseragam serba putih menyambut mereka dengan riang. Yeah, wanita cantik. Kei sampai merasa harus berhenti sejenak hanya untuk mengagumi betapa Tuhan memahat wajah di hadapannya ini dengan sangat sempurna.

“Kei, ini Song LeAnn, sukarelawan paruh waktu di sini. LeAnn, ini Kei, tetanggaku. Dia—“

“Kei yang itu?” LeAnn tersenyum penuh maksud. Lantas Kei melirik Yeontae yang tertangkap basah sedang menggeleng-gelengkan kepalanya pada LeAnn, mengisyaratkan sesuatu.

“Ssst, LeAnn!” Yeontae mendesis, membuat Kei makin tersinggung. Ah, pasti Yeontae membicarakan yang tidak-tidak tentangnya. Huh, bisa-bisanya Yeontae membicarakan Kei dari belakang. Seakan figur LeAnn belum cukup membuat Kei rendah diri.

Jadi, di sepanjang penelusuran langkah kaki mereka di koridor rumah sakit, Kei hanya diam, membiarkan Yeontae dan LeAnn bicara dengan akrab.

Mulut sih, bisa dikunci. Tapi telinga tidak.

“Kadang-kadang aku merindukan ketika kau masih rajin ke sini, Yeontae!” ujar LeAnn.

“Sudah lama, ya,” Yeontae menggantungkan kalimatnya sambil terus berjalan. “Aku juga rindu. Tapi … tidak baik merindukan apa yang sudah jadi milik orang lain. Ya, kan?”

Jantung Kei terasa dipalu, bahkan mungkin sebenarnya ia bisa mendengar suara jantungnya sendiri. Terlebih lagi ketika dilihatnya LeAnn memukul bahu Yeontae sambil tertawa.

“Kei pendiam sekali, ya?” LeAnn menoleh ke belakang, ke arah Kei yang tanpa sadar memeluk ranselnya erat-erat. Yeontae ikut berputar.

“Tahu tidak, hingga bertemu langsung denganmu, aku tidak percaya semua ucapan Yeontae—“

“LeAnn!”

“Membicarakan apa pun juga aku tidak peduli.” Tanggapan Kei barusan menimbulkan keheningan di antara mereka bertiga. Yeontae dan LeAnn saling pandang. Lantas LeAnn tersenyum.

“Sudah siang, bagaimana kalau makan siang di kafetaria rumah sakit? Di sini masakannya enak sekali, lho! Kita bisa ke bangsal penderita kanker setelah makan siang. Hm?” Sebenarnya LeAnn meminta pendapat Kei, karena wanita itu terus memandanginya dengan ramah. Namun justru Yeontae-lah yang membuka mulut.

“Oh iya! Aku sudah lama tidak makan di sini! Ayo!”

Melengkapi kekesalan Kei yang sudah dipendam dalam-dalam, Yeontae meraih pergelangan tangan LeAnn dan menariknya ke arah kafetaria rumah sakit. Dua langkah, tiga, lima, sepuluh, Kei tidak berusaha mengejar. Ia mengembalikan ransel tersebut ke posisi asalnya, di belakang punggung. Sudahlah, mana ada yang peduli kalau ia sudah bangun pagi dan membuatkan bekal untuknya dan si tetangga.

:::

:::

LeAnn memperkenalkan mereka pada Gong Haein, gadis cilik penyintas leukimia. Ketahuan mengidap kanker darah sejak berusia enam tahun. Lalu ada Shim Kyunsu, seorang anak berusia dua belas tahun yang besok akan menjalani operasi pengangkatan tumor ganas di kepalanya setelah melewati berbagai macam pengobatan. Sementara LeAnn mengadakan permainan yang diikuti oleh anak-anak yang sudah bisa berjalan tanpa alat bantu, Yeontae mengajak Kei ke kamar lain—kamarnya Kim Hansoo, Park Jina, Kim Hyojoo dan Jang Daehee. Shim Kyunsu ternyata mengekorinya. Keduanya melambaikan tangan, dan Yeontae memperkenalkan diri.

Kei sudah diberitahu sebelumnya bahwa Yeontae pernah menjadi sukarelawan di sini setiap liburan musim panas dan musim dingin sejak SMA. Tapi, mengamati Yeontae memperkenalkan diri pada para pasien, membuat Kei berpikir bahwa … bahwa mungkin saja anak-anak terdahulu sudah pergi. Entah kembali ke rumah, atau pergi selamanya—mengingat fakta bahwa ini rumah sakit anak khusus penyintas penyakit berbahaya.

Yeontae pasti sudah terbiasa dengan perpisahan.

“Kak Kei akan membacakan kalian Petualangan Tom Sawyer, oke?” kalimat Yeontae membebaskan Kei dari lamunannya. “Siapa di sini yang menggemari Tom Sawyer?”

Keempat gadis cilik, kecuali Shim Kyunsu mengangkat tangan mereka yang bebas infus. Gelagapan, Kei membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku cerita anak-anak yang sudah dipersiapkannya dari rumah. Ia menyempatkan diri untuk melempar pandang ke arah Yeontae, minta dukungan. Dan ia mendapatkannya. Yeontae mengangkat alis dan mengangguk. Maka Kei membacakannya, kata demi kata, kalimat demi kalimat, emosi demi emosi, dan petualangan demi petualangan. Ia memberikan aksentuasi dan alunan suara pada adegan-adegan tertentu. Lalu tersipu malu saat semuanya bertepuk tangan.

Mengakhiri pertemuan dengan para pasien cilik, Yeontae dan Kei kembali pada LeAnn untuk pamit pulang.

“Aku berutang padamu, Yeontae. Minggu ini adalah minggu terakhir ujian sekolah, jadi besok Haneul akan kembali ke sini. Dan ….” LeAnn memandang Kei. “Empat anak di kamar sebelah bilang bahwa kau pembaca cerita yang baik. Shim Kyunsu bukan anak yang optimis soal operasinya, tapi … setidaknya semangatnya kembali. Katanya tadi, jika terjadi apa-apa padanya … setidaknya ia tahu jalan cerita Tom Sawyer.”

Kei merasa seseorang menyiram wajahnya dengan air es, sekaligus menamparnya sekuat tenaga. Benar, benar sekali. Keempat anak di ruangan tadi bahkan belum bisa melepaskan instrumen yang dipasang di tubuh mereka. Dan salah satunya mungkin akan sembuh, atau justru akan pergi.

Lalu apa yang Kei lakukan sejak pagi? Ia sibuk memikirkan bahwa perjalanannya dengan Yeontae akan sangat menyenangkan bak piknik hari buruh, mengobrol di atas alas dan makan bekal sore hari sepulangnya dari kegiatan di rumah sakit. Dan kemudian ia merasa imajinasinya hancur sudah karena kehadiran LeAnn—yang mungkin, sangat mungkin, adalah si mantan paling cantik sejagat raya—ia bahkan sempat bicara yang tidak-tidak. Bagaimana ia bisa memikirkan dirinya sendiri?

Perjalanan di bus tidak seramai tadi. Penumpang yang naik hanya beberapa orang, dan sebagian besar dari mereka tertidur pulas. Sementara itu, Kei tidak pernah berpaling dari jendela, hingga Yeontae membuka mulutnya.

“Kurasa tetanggaku ketinggalan di rumah sakit. Mungkin aku akan turun di sini saja dan menjemputnya lagi, karena sedari tadi tidak terdengar suaranya.”

Lantas Kei menoleh, menyunggingkan senyum tipis. Sejurus kemudian, gadis itu memandang Yeontae lekat-lekat.

“Akan kuberitahu satu fakta penting yang ada di alam semesta ini, Jung Yeontae. Aku menyukaimu.” Kei, dengan wajah serius dan mata sedikit terpicing, meloloskan kalimat itu tanpa beban sama sekali. Sementara itu, Yeontae melongo.

“Ap-apa?”

“Tidak terlalu lama setelah aku bangun lebih pagi dari biasanya, aku membuatkan kita berdua bekal. Lalu ternyata ketika aku ke rumahmu, kau malah belum bersiap. Dan seakan aku belum cukup patah hati, Song LeAnn yang cantik itu, bertemu-kangen denganmu, membicarakan masa lalu dimana—barangkali—kalian masih jadi pasangan. Dan oh! Aku terpaksa memberikan bekalku pada penjaga kantin, karena kita ternyata makan siang di sana.”

“O-oh ….” Yeontae salah tingkah, soal bekal dan soal pernyataan cinta.

“Aku bisa memaafkan itu, karena kau toh memang tidak pernah peka, dan mungkin juga tidak menyukaiku. Kupikir aku harus lekas-lekas melupakanmu, Jung Yeontae, karena Song LeAnn memang cantik sekali, kau akan kembali padanya.”

“Tu-tunggu, tunggu ….”

“Kemudian,” Kei memotong lagi. “Kemudian kita mengunjungi keempat anak yang tidak bisa ikut main game dengan Song LeAnn di kamar sebelah, bersama Shim Kyunsu. Aku tidak pernah dirawat di rumah sakit, aku tidak tahu bagaimana rasanya ketika peralatan medis itu dipasang di tubuhku. Tapi mereka tersenyum … yeah, tersenyum, seakan mereka bahkan tidak mengidap flu ringan. Yang satunya mau operasi besok. Tapi ketika melihat kita, ia tersenyum, si Shim Kyunsu itu. Mereka menanggapiku ketika kubacakan cerita. Mereka berisik, mereka banyak tanya. Tapi aku senang sekali.”

Kali ini Yeontae diam.

“Lebih bahagia daripada ketika kau mengajakku ke sini—yang mana bukan kencan, aku tahu, tapi tetap saja kuanggap kencan—lebih bahagia daripada ketika kau membuat reaksi publik jadi lelucon, lebih bahagia daripada mengetahui bahwa kau duduk bersebelahan denganku di bus, lebih bahagia dari kenyataan bahwa kau menawarkan diri membawakan barang-barangku. Lebih bahagia daripada menyukaimu, Jung Yeontae. Percaya, tidak?”

“Iya, iya, percaya, tapi—“

Bus berhenti di halte di depan daerah perumahan mereka. Yeontae dan Kei turun dari bus, dan Kei tidak memberikan Yeontae kesempatan berbicara di sepanjang perjalanan mereka menuju ke rumah. Gadis itu terus-menerus berceloteh bahwa ia tertarik untuk jadi sukarelawan di rumah sakit anak, dan bahwa dia berharap mereka sembuh, dan ia ingin sekali bertemu mereka di luar rumah sakit. Kei baru menghentikan ceritanya ketika mereka sudah tiba di depan rumah Kei, dan di seberang rumah Yeontae.

“Nah, sampai jumpa, Yeon—“

“Sudah ceritanya?” potong Yeontae. Pemuda itu melipat tangan di dada dan mengunci pandangannya pada Kei. Gadis itu mengangguk seraya mengangkat alis.

“Bagus. Jadi sebelum kau masuk ke dalam rumah, biarkan aku mengambil hak bicaraku yang sudah dengan semena-mena dimonopoli olehmu.”

Yeontae menarik napas panjang. Oh, yang benar saja, memangnya ia bisa santai setelah apa yang telah Kei katakan di bus tadi? Yang. Benar. Saja.

“Akan kuberitahu satu fakta penting yang ada di alam semesta ini, Tetangga. LeAnn bukan pacarku, karena aku tidak mungkin mengencani sepupu sendiri. Seperti tidak ada cewek lain saja,” Yeontae memutar bola matanya, sementara Kei terperangah.

“Ja-jadi, maksudnya bahwa ‘kau tidak mungkin merindukan yang sudah jadi milik orang lain’ itu …?”

“Ingat LeAnn menyebutkan nama Haneul? Park Haneul menggantikanku menjadi sukarelawan di rumah sakit anak itu sejak aku lulus SMA. Semua yang tadinya milikku, jadi miliknya, tentu saja. Kei, kalau kau sudah berada di sana secara berkala,” Yeontae mengalihkan pandangannya jauh ke ujung jalan, lalu kembali pada Kei. “Kau akan merasa memiliki semuanya, terutama jika anak-anak itu menyukaimu. Mereka tidak akan tertawa jika kau belum muncul dari balik pintu. Dan ketika Haneul datang menggantikanku, aku tahu aku harus kehilangan semuanya. Kehilangan tawa mereka, kehilangan waktu membacakan buku, kehilangan waktu bermain, semuanya. Karena kuota sukarelawan dibatasi. Dan aku tidak mungkin terus di sana. Jadi, milikku kini berpindah tangan pada Haneul.”

Tidak ada yang bicara. Kei membeku di tempat, lupa pada embusan angin sore yang menerbangkan helai-helai rambutnya.

Tunggu. Jika memang begitu situasi sebenarnya, maka ….

“Jadi … apakah kau mau melanjutkan pernyataan di bus tadi, bahwa kau—“

“Jung Yeontae, di halaman rumahmu ada ….” Kei melayangkan telunjuknya ke arah rumah Yeontae di seberang jalan, dengan gerakan yang terlalu tiba-tiba, sehingga Yeontae tidak menyadari bahwa Kei sedang menerapkan tes sosial padanya. “Ada Song Hyegyo!”

Tepat ketika Yeontae memicingkan mata ke arah halaman rumahnya, Kei mendorong pagar rumahnya, membantingnya, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah. Tidak peduli pada Yeontae yang memanggil namanya dan mengatakan bahwa Kei sangat curang. Tidak peduli pada kemungkinan bahwa Yeontae bisa saja menunggunya lalu melempari jendela kamar gadis itu hingga ia dapat penjelasan.

Jadi mari kita biarkan saja Kei menertawakan dirinya sendiri kali ini. Lagi pula, Kei sedang bahagia akan dua hal: para pasien cilik yang bersedia menunggu kedatangannya kembali ke rumah sakit—ia bertekad akan kembali ke sana hari Minggu nanti—dan kenyataan mengenai Yeontae dan LeAnn.

FIN.

EXTRA

Things that actually being a topic of a convo between Yeontae and LeAnn

Yeontae: (on the phone) Tomorrow I’m going to be there with Kei.

LeAnn: Kei who?

Yeontae: Kei my neighbor

LeAnn: Ah~~ that Kei. The Kei girl.

Yeontae: Okay, here’s the deal. You zip this secret, and you can have my Naruto action figure.

LeAnn: What secret?

Yeontae: … LeAnn I’m serious.

LeAnn: So am I. How could I keep a secret if I even do not know what I should keep? So what secret?

Yeontae: That I like her, okay? You know that, you evilish cousin!

Iklan

4 tanggapan untuk “[Vignette] Of This Brand New Trip

  1. KAK ECIII KAK KAK KAK AKU SYUKAAAAAA ADUDUH KAPAN SIH TULISAN KAK ECI GA KETJEH GINI😭

    Karakter Kei, karakter Yeontae sampe karakter LeAnn semua kusyukaaaa duh gimana ini bilangnya pokoknya aju naisss deh kak😂😂😂
    Dan tentang tema cerita, duh aku gapernah kepikiran bikin kaya begini. Aku pribadi sering sedih liat yg kaya gitu, bikos dulu ibuku pernah jadi salah satu pasien kanker dan di rs aku nemuin banyaaaaak banget yg senasib sama ibuku mulai dari bayi sampe yg udah lanjut usia. Dan benar. Mereka hanya punya dua pilihan, sembuh atau berpulang. Tulisan kak eci bikin aku terharu. Banget. Makasih banget kak eci udah bikin cerita kaya giniiii💜💜💜

    Suka

    1. Halo, ay! Ini tadinya aku mau nulis yeontae no matter what sih, tapi setelah berpikir, aku mutusin mengkarakterkan mereka jadi sukarelawan di rumah sakit anak penyintas penyakit berbahaya. Dan yah, aku ga banyak survey mengenai ini, jadi apa yang nempel di kepala aja yang aku sampaikan. di luar itu, aku senang kalau topik yang aku angkat ini bisa disukai. yah, rasanya kalo ngebahas slice of life tentang penyintas kanker itu lebih … apa ya, memanusiakan tulisan sih. aku rencananya mau fluff kan tapi semoga tulisan mengenai slice of lifenya baik.
      makasih yaya sudah mampir ^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s