[Ficlet] Stay

stay

Casts Isaac Voo [BOYS24], Yiyang [SMROOKIES] Genre Slice of life, family, fluff Length Ficlet Rating PG-17

© 2016 namtaegenic

:::

Apples!”

Seraya mengikat rambut panjangnya, Yiyang tergopoh-gopoh menelusuri koridor antara rumah dengan toko buah milik keluarganya. Dari pintu samping khusus untuk menerima distributor buah-buahan, manik gadis itu mengembara dengan kaki berjinjit, mencari si pemilik suara. Isaac tampaknya tenggelam dari balik dus-dus apel di bak belakang mobil, karena yang terlihat hanya separuh wajah beserta helai pirang penghuni dahinya. Lantas Isaac muncul dan tersenyum.

What took you so long, Barbie? Got some make up to meet me?”

“Menggunakan Bahasa Inggris ketika berbicara denganku tidak membuatmu lebih keren dari pengantar buah lainnya. Lebih-lebih, kau kelihatan seperti kacang lupa pada kulit. Turis karbitan. Gagak berbulu parkit—“

“Apa yang Papa ajarkan soal menyambut tamu, Yiyang?” terdengar suara papa dari dalam rumah, mengundang cengiran lebar dan kekehan geli dari mulut Isaac sementara tangannya dengan cekatan memindahkan beberapa dus apel dari bak mobil ke toko. Yiyang berdecak, tidak sependapat mengenai ‘perilaku terhadap tamu’. Isaac bukan tamu. Ia hanya pengantar barang yang tiap dua kali seminggu datang mengecek kondisi buah dari perkebunan milik keluarganya yang didistribusikan ke toko milik keluarga Yiyang.

Dan untuk seorang yang ‘bukan tamu’, Isaac terlalu banyak gaya.

“Omong-omong,” ujar Yiyang setelah memastikan bahwa papa sudah menghilang dari pandangan. “Apakah kau memang punya kebiasaan merayu semua anak perempuan yang kautemui di tengah-tengah jam kerja?”

Tawa Isaac tersembur ditingkahi dengan bahak yang tidak repot-repot ditahannya lagi. Yiyang memberikan Isaac kesempatan untuk menertawakan pertanyaannya, kalau-kalau saja setelah ini ia bisa langsung melemparinya dengan apel.

Namun setelahnya, Isaac menggeleng.

“Cuma kau.”

Inginnya, Yiyang mengumpati Isaac dengan “bajingan” atau yang lainnya. Tapi ia pasti sudah dipecat jadi karyawan oleh ayahnya sendiri jika berani memaki mitra kerja keluarga. Jadi kata “bajingan’ tadi digantinya dengan “berengsek”, dan hanya diucapkan dengan gumaman tak jelas.

“Sungguh,” Isaac menurunkan kardus apel terakhir. “Cuma kau, soalnya … mitra ayahku yang lain anaknya masih kecil-kecil dan aku bukan pedofil.”

Yiyang melancarkan sebarisan tawa sarkastis dan ditutup dengan matanya yang terpicing malas. Isaac memberikannya pulpen dan secarik tanda terima untuk ditandatangani. Lantas pemuda itu berbalik, memberikan punggungnya untuk jadi alas.

Sejenak Yiyang terdiam. Isaac memiliki punggung yang lebar terbingkai kedua bahu tegap, tersembunyi di balik jaket denimnya. Yiyang tidak pernah mengamati postur Isaac sebelumnya. Selama ini gadis itu hanya menilai rentetan kalimat-kalimat berbahasa inggris sok hebat yang dilontarkannya dengan seringaian menyebalkan. Isaac menjalani masa SMU-nya di Seattle, Amerika. Tapi ia memutuskan untuk kembali ke Cina dan melanjutkan pendidikan. Papa pernah bercerita pada Yiyang, bahwa Isaac tidak membutuhkan iming-iming bekerja di perusahaan besar. Ia merasa lebih baik jika bisa bekerja dengan keluarganya sendiri. Ia punya rencana, kata papa, bahwa suatu saat ia akan mengekspansi usaha keluarganya. Isaac adalah pekerja keras, dan—papa menambahkan—selalu mengikuti nurani dan intuisi.

Tadinya Yiyang menganggap bahwa papa mendramatisir. Tapi barangkali selama ini ia hanya mengabaikan kenyataan. Tidak perlu cenayang untuk mengetahui bahwa Isaac adalah seperti apa yang papa katakan.

Okay, I know my back looks so nice to you, but there are about three grocery stores I should be heading into so … make it quick, please?”

Kedua manik Yiyang bergulir dan ia menggeleng-gelengkan kepala. Untuk sesaat Isaac membuat benaknya berkelana. Detik berikutnya ia kembali jadi distributor apel yang sok. Apa pun itu, Isaac tetap menyebalkan. Dan ucapan papa tidak akan mengubah pendapat Yiyang.

Yiyang menandatangani tanda terima itu beralaskan dinding toko, dan menyerahkannya pada Isaac. Pemuda itu tersenyum, mengucapkan terima kasih, dan mengangkat kedua jemarinya layaknya memberi hormat.

I’ll see you next time, Yiyang!”

Memerhatikan mobil distribusi yang menderu pergi, Yiyang bersedekap. Mumpung benaknya masih terfokus pada pemuda yang baru saja menjalankan mobilnya itu, Yiyang memutuskan untuk menganalisa sesuatu, tentang apakah Isaac sejatinya memang seperti itu. Atau apakah sebenarnya ia terobsesi pada film-film Amerika makanya ia jadi suka menggunakan bahasa yang sama ketimbang bahasa ibu.

Atau apakah Isaac memang sudah menetap di kepala Yiyang sejak lama tanpa gadis itu sadari.

FIN.

Iklan

Satu tanggapan untuk “[Ficlet] Stay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s