[Vignette] Oh and Young: Afro

 oh-and-young-afro

Casts Oh Jinseok [BOYS24], Lennox Young  [OC] Genre Friendship, college life Length Vignette Rating PG-17

© 2016 Catstelltales

::

“Aku akan menjual sahabatku sendiri kalau bisa punya rambut seperti ini,” Lennox—pada suatu hari yang agak mendung—mendesah penuh damba seraya menunjuk sebuah foto wanita dengan model rambut keriting dan mengembang alami di majalah. Jemarinya tak hentinya mengetuk potret model itu hingga akhirnya Jinseok keluar dari game di ponselnya dan ikut-ikutan melihat majalah. Lantas matanya membelalak.

“Kaupikir mukamu cocok untuk semua jenis rambut?” cibir Jinseok. Lennox menahan napas secara dramatis hingga ada bunyi ngik pada helaannya, lantas ia meletakkan tangan di dada seakan Jinseok baru saja mengeluarkan pernyataan antifeminisme yang bersifat melecehkan. “Lagi pula kau nggak sekurus ini.”

“Oh, jadi sekarang kau menjelma jadi ahli kecantikan?” Lennox menukas sebal. “Sejak kapan model rambut dipengaruhi bentuk tubuh?”

Majalah itu masih menampilkan wanita berambut model afro yang bertubuh ramping dan memiliki warna kulit eksotis. Wanita itu tampak sangat cocok dengan apa pun yang dikenakannya di potret itu. Termasuk rambut afronya. Terutama rambut afronya.

Lantas pandangan Jinseok beralih kembali pada Lennox. Gadis itu memiliki kulit putih pucat dan sepasang mata tanpa kelopak. Seakan sedang berada di game yang pemain virtualnya bisa berganti-ganti penampilan, benak Jinseok langsung memasangkan rambut afro ke kepala Lennox. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyemburkan tawa ketika visualisasinya sudah sempurna. Sempurna kacaunya.

Lennox mengupayakan tatapan sesinis mungkin pada Jinseok yang tingkat ketidaksopanannya di atas rata-rata. Namun pemuda itu seakan lebih tertarik dengan partikel oksigen ketimbang melontarkan kata maaf.

“Pokoknya ketika kelas berakhir, aku akan langsung ke toko beli wig. Tidak butuh persetujuanmu, tidak butuh pendapatmu, dan tidak butuh … kenapa tawamu jelek sekali, berengsek?”

::

Jinseok tidak pernah menghadapi pilihan yang begitu berat di dalam hidupnya. Bahkan ketika ia masih duduk di tahun terakhir sekolah menengah, Jinseok sudah memutuskan akan melanjutkan ke universitas mana dan jurusan apa. Pemuda itu cenderung spontan dan tidak terlalu suka memperhitungkan sesuatu. Lagi pula, sejak awal ia lebih suka mempelajari desain bangunan. Ia suka mengamati betapa perancangan kawasan itu tak estetis jika dilihat dari atas, tapi juga fungsional. Oleh karena itu, jurusan arsitektur adalah pilihan pertama dan satu-satunya Jinseok.

Namun, bahkan yang satu ini lebih sulit perhitungannya daripada jurusan yang mengacu ke ingin jadi apa dia di masa mendatang. Yang satu ini tidak main-main. Yang satu ini butuh nyali dan perhitungan matang untuk melaksanakannya.

Di kedua tangan Jinseok sudah bertengger sebuah wig afro berwarna hitam kemerahan. Ia membelinya diam-diam di toko cosplay, karena toko wig pasti sudah disambangi oleh Lennox dan ia sangat menghindari pertemuan dengan gadis itu.

Panggil Jinseok apa saja, tapi bagaimanapun menyebalkan dirinya, pemuda itu menjunjung tinggi rasa setia kawan. Model rambut afro seperti ini hanya akan keren di kepala orang-orang tertentu, dan Lennox jelas-jelas tidak termasuk dari orang-orang tertentu itu. Jinseok percaya dengan insting bermain game-nya. Ia sudah berkali-kali memvisualisasikan rambut afro tersebut di atas kepala Lennox, dan gadis itu tidak akan mendapatkan apa pun selain tepuk tangan meriah dan fotonya terpampang di instagram khusus meme. Seperti tidak kenal teman-teman seangkatan mereka saja.

Jinseok memasukkan wignya ke dalam tas dan memutuskan untuk mengenakannya di kamar mandi kampus. Jika Lennox ditertawakan, minimal ia bisa berbagi penderitaan dengan Jinseok.

Jantung Jinseok berdetak keras hingga terasa mendobrak dadanya sendiri begitu ia tiba di kampus dan memasang wig tersebut. Jurusan arsitektur tampaknya belum terlalu ramai. Lalu tiba-tiba Jinseok ingat bahwa tiap hari Selasa, seluruh mahasiswa angkatan mereka harus menghadiri kelas Dosen Shim di gedung fakultas, di mana untuk mencapainya ia harus melewati jurusan Teknik Sipil, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan, Teknik Elektro, dan Teknik Geologi.

Dan … kantin, ya Tuhan.

“Atas nama persahabatan Jinseok dan Lennox!” dari balik wig afronya yang supermegar, Jinseok bergumam dan mengepalkan tinjunya. Ia seharusnya dapat medali persahabatan atas perbuatan rela berkorbannya.

Jinseok melangkah cepat sambil sedapat mungkin menyembunyikan wajah. Berpasang-pasang mata memandanginya, tampaknya ingin tahu apakah ada mahasiswa baru karena mereka belum pernah melihat rambut afro sepalsu itu. Ia menghela napas berat ketika sudah tiba pada bordes lantai dua fakultas teknik. Tanpa memberikan kesempatan mahasiswa-mahasiswa lain mengenalinya, ia langsung menerobos pintu kelas tanpa mengetuk.

::

“Jangan dilepas.” Lennox, usai mengucapkan sumpah bahwa ia akan berhenti terpingkal-pingkal, mencegah Jinseok untuk menarik lepas wig afronya. “Kau keren mengenakannya.”

“Alah, dasar mulut manis kau, Lennox! Kau sahabat paling busuk di dunia, aku akan segera mendeklarasikan pada dunia bahwa kita tidak akan berteman lagi selamanya sampai mati!” Jinseok menjauhkan dirinya dari jangkauan Lennox.

Memutar waktu beberapa jam ke belakang, sebaiknya kalian tahu apa yang terjadi pada teman kita tepat setelah ia menerobos masuk ke kelasnya. Ada tiga tahap, sungguh, cuma tiga. Pertama, puluhan mata memandangnya dengan takjub. Kedua, Lennox—yang ternyata masih berambut hitam panjang dan diekor kuda tanpa sesuatu yang afro-afro di kepalanya—berdiri dan menjerit, “OH JINSEOK?!” seakan kejadian ini tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengannya. Ketiga, tawa membahana memenuhi seisi ruangan dan bahkan Dosen Shim pun tidak repot-repot menahan diri.

“Lihat ini!” Jinseok mengacungkan layar ponselnya ke hidung Lennox. Di sana, foto Jinseok mengenakan wig dengan ekspresi terkejut sudah terpasang di Instagram, lengkap dengan caption dan hashtag serupa yang memudahkan publik dalam mencari.

“Oh, kau terkenal!”

“Omong kosong, aku benci kau, Lennox!” Jinseok melepaskan sikunya dari genggaman Lennox. Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya, tampak merasa bingung dan amat bersalah.

“Oke, oke. Jadi untuk kauketahui saja, aku tidak jadi pakai wig afro karena ternyata memang tidak cocok denganku secara keseluruhan.” Lennox mengakui. “Tapi mana aku tahu kalau kau …. Ya Tuhan, Jinseok, apa yang harus kulakukan supaya dimaafkan?”

Jinseok menyerahkan wignya dengan pandangan membara penuh dendam kesumat. “Nih, sampai ke rumah! Berhenti di setiap toko dan berfoto di sana dengan wig ini. Kirim padaku.”

Lennox mendesah sebal. Yang benar saja. Mengenakan wig ini adalah inisiatif Jinseok sendiri. Mengapa ia jadi ikut repot?

“Baiklah, baik. Sini, kupakai pulang. Tunggu fotoku.”

“Jangan coba-coba curang. Aku tahu jumlah toko sepanjang jalan kampus ke rumahmu.”

“Iya, Jinseok.” Lennox memasang wig tersebut di kepalanya, dan menunjuk dirinya sendiri. “Atas nama persahabatan, kau boleh memasukkan fotonya nanti ke Instagram.”

Tak tahan merajuk lama-lama, Jinseok akhirnya mendengus tertawa. Ia masih kesal dengan kejadian itu, tentu saja. Tapi ia menghargai penebusan kesalahan yang dilakukan Lennox.

“Tapi aku serius,” ujar Lennox di perjalanan mereka menuju gerbang universitas dan sebelum berpisah jalan. “Kau cocok dengan rambut afro. Mirip Ludacris1.”

Rona merah menjalari wajah dan telinga Jinseok. “Yang benar?” Ia menuntut klarifikasi.

“Benar. Bahkan kau lebih keren dari Ludacris, atau Coco Crisp2, atau Lenny Kravitz3—“

“Oh terima kasih, tapi simpan pujian itu untuk dirimu sendiri, Lennox. Kau tetap pakai rambut ini sampai ke rumah.”

FIN.

Notes:

  1. Ludacris: penyanyi hip hop Amerika dan aktor.
  2. Coco Crisp: pemain baseball
  3. Lenny Kravitz: penyanyi, penulis lagu, aktor.
  4. Ketiga selebritas di atas sama-sama memiliki model rambut afro, kecuali mungkin Ludacris yang sekarang rambutnya udah dimodel lain.
  5. Aku pengen punya rambut afro. Rambut afro tuh keren banget kadang suka iri sama orang yang rambutnya afro gitu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s