[Vignette] Happy Birthday!

Happy Birthday!

by ayshry

[BOYS24’s] Park Doha – [OC’s] Hwang Inha

AU!, Fluff, Friendship/Vignette/G

***

Sudah menjadi kebiasaan memang bagi seorang Park Doha untuk terjaga hingga larut malam atau bahkan hingga pagi menjelang. Profesinya sebagai seorang residen di rumah sakit swasta membuatnya mau tak mau tetap melaksanakan tugas bahkan di hari spesialnya sekali pun.

Well, hari ini adalah hari ulang tahun pemuda berlesung pipi tersebut. Dan tentu saja si pemuda tak memiliki banyak waktu untuk sekadar menerima ucapan apalagi merayakan. Padahal Reyn—adiknya—sudah mewanti-wanti agar sang kakak pulang hari itu—meski pun harus pulang dengan sangat terlambat. Tetapi mau bagaimana lagi? Pekerjaannya benar-benar tidak bisa ditinggalkan, terlebih hari ini banyak pasien baru yang sebagian besar berada di bawah pengawasan si dokter muda.

“Iya, Rey, aku tahu. Tapi kau harus mengerti, oke? Kita bisa merayakan ulang tahunku besok. Tidak apa-apa, ini sudah menjadi pekerjaanku dan aku menikmatinya. Jangan tunggu aku dan tidurlah. Aku takkan pulang hari ini. Hm … kurasa aku harus mematikan telepon sekarang, Rey. Seorang pasien baru saja tiba dan, kautahu, mereka sudah memanggilku. Jadi, pergilah tidur dan sampai bertemu esok hari!”

Mematikan sambungan telepon sembari menghela napas, Doha lekas menyimpan ponselnya lantas berlari ke sumber suara dimana dua orang perawat telah memanggilnya sejak omelan Reyn terdengar di ujung telepon. Doha pasrah. Ia tahu si adik dirundung amarah dan takkan mudah untuk reda. Kemungkinan besar, amukan sang adik bisa membuatnya mati berdiri esok hari, tetapi apa boleh buat, pekerjaan menuntutnya untuk tinggal di tempat dan melupakan bayang-bayang keseruan perayaan ulang tahun bersama saudara-saudaranya.

Doha menghela napas. Mencoba melupakan kesenangan yang tak sempat tercicipi, ia bertekad untuk fokus pada pekerjaan kini. Soal lain-lain bisa ia pikirkan nanti, karena yang ia hadapi adalah persoalan nyawa yang sangat berarti. Mengambil alih brankar pasien lalu mengeluarkan stetoskop dari saku jas serba putih miliknya, Doha pun memulai kembali pekerjaan yang sempat tertunda lantaran menerima telepon dari sang adik.

“Siapkan ruang operasi, sekarang!”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari ketika Doha melangkahkan kaki keluar dari ruang operasi. Peluh di dahi diseka sekenanya, lantas ia melepas penutup kepala dan melemparkannya ke dalam tempat penampungan pakaian pasca operasi. Langkahnya terseok, terlihat jelas bahwa pemuda tersebut sangat lelah. Sembari memaksa kakinya untuk tetap menapaki lantai, Doha masih berusaha untuk menahan kantuk yang telah menyerangnya sejak tadi.

Namun tampaknya kasur harus menunggu beberapa saat lagi. Usai melaksanakan operasi kecil dadakan malam hari, ia masih diharuskan untuk mengecek pasiennya yang baru menjalani operasi tempo hari.

“Oi, Dokter Park!”

“Kau masih di sini, Hwang Inha?”

Kantuk Doha lenyap seketika ketika melihat sosok familier yang datang dari arah luar ruang ICU. Pada jam segini, bukanlah hal wajar untuk seorang ahli gizi berkeliaran di rumah sakit. Jam kerja mereka biasanya hanya hingga sore hari atau paling lama hingga pukul delapan malam. Lantas, apa yang gadis itu lakukan pada jam segini di rumah sakit?

“Aku sudah pulang, tentu saja. Dan … seseorang memaksaku untuk kembali.”

“Siapa?”

“Park Reyn.”

“Astaga, gadis itu.” Doha berdecak. “Untuk apa dia menyuruhmu kembali, hm? Dan, hei, dari mana Reyn mendapatkan nomor ponselmu?”

“Oh, apa kau tidak tahu kalau aku dan dia berteman di beberapa media sosial?”

“Astaga ….” Merasa sedikit bersalah lantaran sang adik meminta hal yang tak wajar kepada karibnya, Doha lekas membawa Inha keluar dari ruang ICU menuju ruang istirahat di bagian paling belakang rumah sakit. “Lalu … untuk apa kau kembali, huh?”

“Kau akan mengetahuinya ketika tiba di ruang istirahatmu.”

Raut wajah Doha berubah. Ada rasa penasaran yang tak mampu disembunyikan pemuda itu. Sembari mempercepat langkah demi mengobati rasa penasaran, kedua orang itu pada akhirnya tiba di depan pintu ruang istirahat milik Park Doha.

“Haruskah aku membuka pintu?” Doha bertanya meski hal tersebut hanya sekadar basa-basi tak penting.

“Tentu saja. Agar aku bisa lekas pulang dan tidur dengan nyenyak.” Inha tertawa kecil.

Tangan Doha telah mendarat di gagang pintu. Sekon berikutnya, dengan cepat pemuda itu membuka pintu dan termangu ketika mendapati ruangan tanpa penerangan yang memadai, dan hanya ada samar-samar cahaya dari atas meja kerjanya.

Happy birthday, Park Doha!”

Pekikan kecil yang bersumber dari gadis di sampingnya membuat bibir Doha tertarik memamerkan dua buah lesung pipi yang indah. Si pemuda menatap karibnya tak percaya. Sejak kapan gadis sibuk itu memiliki waktu untuk merayakan ulang tahunnya, hm?

“Kau menyiapkan ini semua? Untukku?”

Sebuah anggukan didapat, lantas Inha membuka mulutnya. “Karena Reyn yang meminta.” Inha tersenyum. “Oh, kurasa ini sedikit terlambat, huh?”

It’s okay.” Mencoba menahan diri agar tak memekik saking bahagianya, Doha hanya mengulum senyuman. “Lantas aku harus berterima kasih padamu atau pada Reyn, huh?”

“Padaku, tentu saja! Hei, aku menyiapkan segalanya sendirian dan kau—“

“Aku hanya bercanda, Inha-ya.” Tawa Doha meledak sementara wajah Inha ditekuk kuat-kuat—pertanda si gadis tengah dilanda kesal kini. “Jadi … haruskah aku masuk dan meniup lilin yang tak sampai separuh itu? Kurasa sebagian besar kue sudah dinodai oleh lelehan lilin-lilin itu.”

“Oh, astaga, tentu saja! Asal kautahu, aku sudah mencarimu ke seluruh penjuru rumah sakit dan beberapa perawat mengatakan bahwa kau baru saja keluar dari ruang operasi lalu pergi memeriksa pasien di ruang ICU. Dan, yeah, aku sengaja menghidupkan lilinnya agar ketika kau tiba-tiba kembali tanpaku, kau sudah mendapatkan kue dengan lilin yang menyala.”

“Kau memang yang terbaik, Nona Hwang!” Menyeret tungkai memasuki ruangan dengan senyum yang tak kunjung pudar, Inha yang mengikuti lekas meraih kue tart tersebut dan menyodorkannya pada si pemuda.

Make a wish, Dokter Park.”

Memejamkan mata sembari memanjatkan doa, Doha rasa hari spesialnya yang terlewatkan beberapa jam yang lalu telah memberikan kesan indah baginya. Tak ada kata terlambat, apalagi di tengah kesibukan yang melanda. Well, meski si pemuda tak pernah membayangkan akan merayakan ulang tahun di tempatnya bekerja, dan meski yang ia terima hanya sodoran kue dengan lilin di atasnya, bagi Doha, segalanya sudah sempurna.

Beberapa saat kemudian, Doha kembali membuka mata. Meniup lilin dengan penuh kebahagiaan lantas mengalihkan pandang pada sang karib yang sudah terlihat seperti malaikat penyelamatnya.

“Aku tak menyangka kau memiliki sisi manis seperti ini, Inha-ya.”

“Ck, jika saja bukan permintaan Reyn, mungkin aku takkan mau melakukannya dan—“

“Oke-oke, cukup. Jangan rusak momen bahagia ini.” Doha kembali tertawa lantas tangannya dengan cepat mencuil krim kue tart yang berlimpah. Sekon berikutnya, jemari jahilnya sudah mendarat di ujung hidung Inha yang kini berbalut krim putih yang manis.

Si gadis tersenyum meski rasa sebal sempat membelenggu. Tak ingin kalah dari si pemuda yang baru saja berkurang usianya, ia pun lekas mencuil krim banyak-banyak lantas mendaratkan tangannya di pipi Doha.

Kedua pun larut dalam tawa. Meski harus mengontrol diri agar tak menjadi pengganggu di dini hari yang sepi, namun tak bisa dipungkiri jika bahagia tengah mengungkung keduanya kini.

“Terima kasih kejutan kecilnya, Nona. Aku menyukainya.”

“Kembali kasih, Dokter Park.” Inha terdiam sesaat lantas melanjutkan, “Jadi … apa yang kau pinta   dalam doamu tadi, huh? Kukira aku tahu ….”

“Apa?”

“Permintaan untuk lekas dipertemukan dengan jodohmu, ‘kan?”

“Astaga, kau benar-benar mengetahui segala hal tentangku, ya? Atau … jangan-jangan kau seorang penguntit yang—“

“PARK DOHA!”

Lalu dini hari yang bahagia itu diakhiri dengan tawa jahil Doha yang tak berkesudahan.

-Fin.

Iya ini terlambat, tau banget kok ehe tapi ficnya udah di posting di blog pribadi dongs pas hari-H-nya ehe ehe ehe wis ah, kusayang masdodo semoga segera meresmikan hubungannya dengan mba inha eh salah ding dengan mba ran ehe ehe

-mbaay.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s