[Vignette] Of A Chemistry Book and A Piggy-back

1492096030315.jpg

OF A CHEMISTRY BOOK AND A PIGGY-BACK

.

School-life, Fluff, Friendship || Vignette || Teen

.

Starring
Boys24’s Hocheol, Mingi Kumiko‘s OC Jea

.

Toh aku tidak ingin menyeret sahabatku ke dalam masalah.

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Big thanks to ayshry for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“JEA!!!”

Seruan Hocheol mengantero sepanjang koridor, membuatku yang sedang merajut langkah menuju kelas harus berhenti. Kepalaku menoleh, menemukan sosoknya yang sedang tergopoh-gopoh berlari ke arahku. Dengan ekor mata aku menangkap pula tatapan aneh sejenak yang dilontarkan teman-teman padaku, yang membuatku – jujur saja – sedikit jengah.

Begitu Hocheol tiba di hadapanku, kuberikan pukulan cukup keras pada pundaknya. Ia mengaduh.

Nggak usah teriak-teriak, deh!” ujarku setengah berbisik. Hocheol memamerkan cengirannya, membuatku gemas.

“Kamu ada pelajaran kimia hari ini?” Hocheol bertanya.

Aku menerawang sejenak, berusaha mengingat. “Hmm … ada.”

“Jam pelajaran ke berapa?”

“Keempat, setelah matematika,” sahutku. “Kenapa?”

Sinar matanya mendadak berbinar-binar, seraya kedua tangannya tahu-tahu memegang pundakku. “Bagus! Aku mau meminjam buku kimiamu!”

Alisku terangkat sebelah. “Eh?

“Aku lupa memasukkan buku paket kimiaku di atas meja belajar.”

“Terus?”

“Hari ini aku ada pelajaran kimia. Tahulah guru Kimia kita yang galak itu akan marah besar jika ada yang tidak membawa buku paket.”

Aku menghela napas panjang, merutuki keteledorannya.

“Pelajaran kimiamu jam keberapa?” tanyaku akhirnya.

“Jam ketiga.”

WHAT?!

Mataku mendelik. Hei, apa ia sudah gila untuk meminjam buku pada orang yang juga butuh dalam waktu berdekatan? Apa ia ingin menghindar dari masalah sementara menyeretku ke dalamnya?

Nggak!” sahutku tegas. Buru-buru berbalik ingin mengakhiri percakapan ini dan segera masuk ke kelas, namun pergelangan tanganku tahu-tahu ditahan. Siapa lagi kalau bukan ulah Hocheol.

Aku mendengus. “Apa, sih?!” ujarku.

Insan bertubuh mungil itu tak berkata apa-apa. Ia hanya balas menatapku dengan manik yang dibuat-buat membulat, sinar memohon terpancar jelas dari irisnya, sedang tangannya menggoyangkan tanganku ke kanan dan ke kiri. Oh, baiklah. Berteman dengan Hocheol sejak usia tujuh tahun membuatku mengerti segala tindak-tanduknya. Dan ini adalah salah satu strateginya jika sedang membujuk.

Helaan napas panjang kembali keluar dari mulutku. Bibirku mengerucut memang, hatiku juga menggerutu. Tetapi tak ayal kuturunkan tas ransel ke lantai dan mulai membuka resleting-nya. Kukeluarkan buku paket kimiaku dari dalam tas.

Nih,” kusodorkan buku kimia itu pada Hocheol. Lebih tepatnya, kuserahkan buku setebal sekitar tiga ratus halman itu dengan cara kupukulkan pelan pada dadanya. “Janji, ya, kau akan mengembalikannya pada jam pelajaran keempat!” tambahku.

“Janji!” balas Hocheol cepat, sambil membuat huruf V dengan jari telunjuk serta jari tengahnya, bersumpah. “Toh aku tidak ingin membawa sahabatku ke dalam masalah.”

Cih.

Tangannya terulur untuk mengacak poniku – satu kebiasaannya yang tidak hilang sejak kecil. Kemudian ia berbalik, dan tungkainya mulai mengambil langkah lebar-lebar namun santai menuju kelasnya.

THANKS A LOT, JEA!” Ia berbalik, kemudian berseru demikian dan melambai padaku. Kubalas dengan lambaian lemah dan senyum kecut, terutama ketika menyadari tatapan aneh teman-teman untuk kedua kalinya.

Hocheol yang menyebalkan.

***

Dengan gelisah kutatap jam dinding itu. Jarum tipis penanda detiknya bergerak dari satu garis ke satu garis tanpa kenal lelah. Aku mulai menggigiti kuku-kuku jemari – kebiasaanku jika sedang dalam keadaan resah. Berkali-kali dwimanikku melirik pintu kelas, berharap sosok tubuh mungil bernama Chae Hocheol itu menampakkan batang hidungnya. Namun tetap saja hasilnya nihil.

Entah sudah berapa kali lidahku mengeluarkan suara berdecak. Kesal. Oh, ayolah. Kemana manusia sialan itu sekarang? Apakah ia lupa untuk mengembalikan buku kimiaku? Apakah ia lupa janjinya untuk mengembalikan buku paket kimia pada sang empunya tepat waktunya?

Tok … tok …

Harapanku pupus sudah ketika runguku menangkap suara hak sepatu khas milik guru Kimia, yang semakin lama semakin terdengar jelas menuju arah kelas kami. Aku menutup mata, lalu menelungkupkan kepala di atas meja. Kutarik napas dalam-dalam, mempersiapkan mentalku untuk menghadapi hukuman yang akan kuterima dalam lima … empat … tiga … dua … satu.

Setelah memberi salam, Ibu Guru menyuruh kami membuka buku paket. Dan di situ aku berdiri dan mengaku kalau aku tidak membawa buku kimia. Oke, sedikit dusta memang, tetapi entah mengapa hati nuraniku terlalu baik untuk tidak menyebutkan nama Hocheol sebagai sumber dari semua masalah ini. Itulah sebabnya aku memakai alasan tidak membawa buku, bukan seseorang meminjam bukuku dan tidak mengembalikannya.

Untuk sebuah alasan gila aku tidak ingin menyeret Hocheol dalam masalah.

Seperti dugaanku sebelumnya, Ibu Guru murka. Sesudah menghabiskan sekitar satu setengah menit mengomel tentang pentingnya menaati aturan serta menepati perjanjian yang telah disepakati, aku disuruh berdiri di belakang kelas. Dengan menghadap dinding aku diperintahkan melakukan gerakan jongkok-berdiri sampai seratus hitungan.

Mau bagaimana lagi? Toh ini ada sepersekian persen salahku juga, meminjamkan buku paketku pada sahabat-tapi-musuh menyebalkan itu. Kutarik napas dalam-dalam, kemudian aku mulai menurunkan tubuh. Lalu berdiri. Satu. Lalu kembali jongkok, dan berdiri. Dua. Begitu seterusnya sampai hitungan seratus.

Sambil melakukan gerakan jongkok-berdiri, ditengah berkali-kali meringis akibat rasa ngilu pada betis serta pahaku, aku mulai merutuki Hocheol dalam hati.

Chae Hocheol sialan.

***

Entah untuk ke berapa kalinya tawa Hocheol pecah, walau aku tak mengerti sisi mana dari ceritaku yang lucu. Aku baru saja menceritakan kejadian di kelas saat pelajaran kimia tadi – tentu saja dengan menyelipkan berbagai omelan padanya. Ia tertawa, terbahak-bahak, bahkan sampai mengeluarkan air mata. Sekali lagi, sampai saat ini pun aku masih tak mengerti bagian mana dari ceritaku yang ia anggap lucu.

Dan aku kembali menepuk – tepatnya memukul – bahunya keras-keras, menyuruhnya berhenti.

Tawanya memang belum berhenti sepenuhnya. Ia masih mencoba tertawa dengan mulut tertutup. “Sorry … “ ujarnya.

“Bagian mana, sih, yang lucu?” tanyaku kesal sekaligus penasaran.

“Kamu jongkok-berdiri sampai seratus kali!” jawabnya. “Aku membayangkan kamu kayak orang bodoh menghadap dinding sendirian terus jongkok-berdiri kayak orang linglung.”

Kuhadiahkan sebuah cubitan kecil namun tajam pada lengannya, yang sukses membuat tawanya berhenti.

“Kamu bukannya minta maaf,” protesku. “Ini semua, kan, terjadi gara-gara kamu.”

Hocheol mengulurkan tangan. “Sorry. Tadinya aku mau cepat-cepat menuju kelasmu, tetapi tahunya guru matematikaku lebih cepat masuk. Lalu aku terpikir untuk menggunakan izin ke toilet, tidak berhasil. Ia tidak mengizinkanku.”

Bibirku masih tetap mengerucut. Alasan, gerutuku dalam hati.

Waktu istirahat akan berakhir dalam tiga menit. Aku dan Hocheol sudah menyelesaikan makan siang. Kami bangkit berdiri dari bangku kantin. Dengan tertatih-tatih aku berjalan menuju tempat sampah di pojok ruangan untuk membuang kotak kertas tempat nasiku. Mengapa tertatih-tatih? Oh ya, coba saja kalian jongkok-berdiri selama seratus kali. Rasakan perubahan menyakitkan yang terjadi pada tungkai kalian.

Sampai di depan tangga yang akan membawa kami ke lantai dua, tiba-tiba Hocheol berjongkok di hadapanku. Kepalanya menoleh ke belakang, dengan obsidian yang menatapku. Aku balas menatapnya bingung.

“Naik,” ujarnya.

Alisku terangkat sebelah, tak mengerti.

“Naik ke punggungku,” perintahnya lagi. “Kamu pasti sakit naik-turun tangga dengan kaki seperti itu.”

Meskipun ragu-ragu, kulingkarkan lengan di sekeliling lehernya. Hap! Dengan sekali gerakan, tahu-tahu aku sudah berada dalam gendongannya. Ia mulai menaiki anak tangga setapak demi setapak. Kueratkan lenganku yang masih melingkari lehernya, takut terjatuh.

Hocheol memang kurus layaknya ranting menjulang, yang terlihat kalau tertiup angin akan roboh. Namun aku tak menyangka rupanya ia kuat juga mengangkatku.

Hocheol berucap, “Anggap saja ini sebagai penebus kesalahanku. Maafkan aku jadi menyeretmu dalam masalah ya, Jea-ya ….“

Mendengar perkataannya pun mau tak mau aku tersenyum, lalu mengangguk.

Meski sebenarnya enggan untuk mengampuni, namun ucapannya yang lembut memaksa otakku untuk menghapus kesalahannya.

Oh, Hocheol sialan.

-fin-

A/N

Mbalel… makasih sudah mau meminjamkan OCnyaa… /melipir/

Iklan

2 tanggapan untuk “[Vignette] Of A Chemistry Book and A Piggy-back

  1. Haishh, aku sebagai emaknya Jea kesel lah digituin sama Chaesochae… oke fix FF ini berhasil bikin aku kesel!!!

    aduhhh baca tulisanmu… aku jadi lupa kapan terakhir kali baca FF dgn bahasa yang indah. ga tau akhir2 ini aku bawaannya pengen baca FF yang bahasanya santai2 aja. makin sadar kalo aku masih butuh meningkatkan kemampuan huhuhu /ini ngelantur/

    Jea ini pemaaf sekali ya, heran padahal aku yang punya OC tapi berasa enggak kenal sama dia wkwkwk XD makasih yaaa sudah bikin FF Jea, nanti aku carikan visual deh hehehe

    nice fic, ce ~~

    Disukai oleh 1 orang

    1. kyaaaaa… emaknya jea mampir XD
      aduh ini bahasa indah apanya cinta…. hwhwhw bahasa absurd ini… dan iya nak kamu ngelantur wong udah jelas bahasamu lbh bagus dr ini… hiihihi makasih udah minjemin jea sama udah mampir ya mbalel ❤

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s