[Ficlet] A Bitter Reality

A BITTER REALITY

BOYS24’s Yoo Youngdoo with OC’s Yoon Mosa | hurt-comfort, slight!romance, slight!colllafe-life | ficlet | PG13

a fanfiction by ayshry, byeongariz, and risequinn

.

.

Pemuda bernama Yoo Youngdoo itu melangkah gontai keluar dari ruangan klubnya. Setelah melewati ambang pintu, maniknya lekas menjumpai presensi seorang gadis yang sangat dikenalinya sudah berdiri membelakangi pintu. Tanpa perlu menatap wajahnya pun, Youngdoo tahu siapa pemilik surai panjang yang dibiarkan terurai sementara kedua tangannya mendekap erat sebuah kanvas kosong di depan dadanya. Yoo Youngdoo membuang napas lantas mengikis spasi dan menghampiri sang gadis.

“Yoon Mosa,” panggilnya kala kedua tungkainya sudah berjejak di belakang sang gadis.

Tak berselang lama, gadis itu sudah membalikkan badan dan membiarkan maniknya bersirobok dengan sepasang lensa berkaca-kaca milik Youngdoo. Saling bertatapan tanpa membiarkan sepatah kata pun meluncur dari katup masing-masing, baik Youngdoo dan Mosa agaknya tak tahu harus mengucapkan apa. Keheningan itu pecah ketika embusan napas Youngdoo mengudara, pemuda itu juga lekas meraih jemari sang gadis sembari terus mengamatinya.

“Kau pasti sudah mendengarnya, ah yeah, tentu saja kau juga marah kepadaku, hm? Kau kecewa setelah mendengar semuanya?” Si pemuda Yoo lantas menundukkan kepalanya selama beberapa sekon sebelum akhirnya retinanya kembali menubruk mata Mosa. “Maaf, Mosa-ya. Maafkan aku—well, aku sangat menyesal. Aku sangat bodoh.”

“Tidak, tidak. Jangan katakan kalau semua yang kudengar itu benar, Kak. Jangan pernah mengakuinya, a-aku—“

“Mosa-ya, k-kau bisa membenciku setelah ini. Tapi, semua yang kaudengar memanglah sebuah kenyataan. Aku terlalu bodoh, Mosa-ya. Aku bodoh!”

Yoon Mosa bungkam. Sesungguhnya, bukan hal seperti ini yang ingin dia dengar. Setidaknya sedikit pembelaan atau mungkin memang semua yang dia dengar hanya bualan belaka. Tetapi ternyata Youngdoo justru mengiakan bahkan sebelum Mosa sempat menanyakan keadaan.

“Haruskah melakukan hal seperti itu? Maksudku, kau … tidak bisakah menyelesaikan segalanya alih-alih kabur layaknya pengecut? Jujur saja, aku tidak suka mendengarnya, Kak. Aku tidak suka mendengar orang-orang membicarakanmu. Mereka berbicara seolah mereka tahu segalanya yang paling benar, sedangkan kau memilih untuk diam dan pergi begitu saja? Oh Tuhan.”

Desahan napas panjang menguar dari bibir Youngdoo. Genggaman di tangan kian mengerat, seolah dia ingin mengatakan bahwa dirinya masih membutuhkan gadisnya meski tak banyak yang bisa dijadikan pembelaan.

Waktu bergulir diterpa hening. Baik Youngdoo maupun Mosa kini sama sama memilih untuk berkomunikasi lewat tatapan saja. Bibir mereka sama-sama kelu, terutama Youngdoo yang tak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan gadis di hadapannya.

Well, Youngdoo memang bersalah. Dia mengakuinya. Dan hal yang dia pilih kini justru membuatnya semakin dipojokkan. Keluar dari klub ketika hari menuju festival semakin dekat adalah pilihan terbodoh yang pernah dia ambil. Tetapi, tidak ada cara lain yang sanggup ditempuhnya. Kabur memang tindakan pengecut, dan Youngdoo harus rela menjadi seorang pengecut lantaran sebuah kesalahan yang enggan dia umbar pada semua orang.

“Maafkan aku, Mosa-ya. Aku sungguh tidak peduli dengan omongan orang-orang. Aku punya alasan mengapa harus mundur dan keluar dari klub. Jujur saja, ini keputusan paling sulit yang harus kuambil sepanjang dua puluh lima tahun kehidupanku. Tapi jika kau ikut berpikir demikian, maka aku akan menjelaskan alasannya padamu. Setelah itu, terserahmu ingin menganggapku bagaimana.”

Youngdoo mengambil napas untuk mengisi paru-parunya yang mulai diserang nyeri. Tindakan bodoh yang diambilnya ini bukan persoalan kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan musyawarah-mufakat. Oleh sebab itu, Youngdoo memutuskan sepihak apa yang menurutnya benar. Sementara itu, Yoon Mosa masih bergeming. Maniknya tetap mengamati wajah sayu Youngdoo selagi menunggu pemuda itu menjelaskan sesuatu. Youngdoo yakin, saat ini Mosa ikut merasa kacau. Terlebih gadis ini-lah yang sejak awal memberi dukungan dan semangat tiap kali Youngdoo pergi berlatih.

Youngdoo tahu, Mosa kecewa padanya saat ini. Karena itu, Youngdoo ingin menjelaskan sesuatu yang setidaknya dapat membuat Mosa bertahan di sisinya—bahkan di saat-saat paling sulit seperti sekarang.

“Katakan sesuatu, Kak. Aku menunggumu.”

“Aku cedera, Mosa-ya. Beberapa hari yang lalu aku tidak muncul di kampus, bukan? Kakiku patah dan dokter memintaku untuk berhenti menari. Bukan hanya istirahat, tetapi berhenti. Kautahu apa maksudnya, ‘kan? Aku tidak bisa menari lagi. Aku tidak akan pernah bisa kembali menari, Yoon Mosa. A-aku … tidak bisa mengikuti festival lagi … maaf.”

“K-Kak Youngdoo ….”

Mata Mosa ikut berkaca-kaca usai Youngdoo menyelesaikan kalimatnya. Dada gadis itu bak terhantam sesuatu yang besar dan menyesakkan—dia sungguh tak menyangka jika alasan yang membuat kekasihnya sampai dicap sebagai pengecut sekarang ini terdengar begitu menyakitkan. Geming lagi-lagi mengambil alih, sementara Youngdoo maupun Mosa tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Gadis itu berhak kecewa pada sang pemuda, tetapi yang dilakukan Mosa pada Youngdoo setelahnya sungguh di luar perkiraan si pemuda Yoo. Mosa menjatuhkan kanvas lukisnya begitu saja dan memberikan pelukan untuk Youngdoo. Sebuah pelukan yang kiranya cukup membuktikan bahwa dia tidak akan meninggalkan pemuda itu dengan masalah yang tengah menderanya.

Yoon Mosa tahu betul bagaimana hancurnya hati Yoo Youngdoo saat ini. Pemuda itu begitu suka menari, tiada hari tanpa berlatih menari dan mengeluarkan keringat sepanjang waktu di dalam ruangan klub yang begitu disenanginya itu. Kini, Mosa tahu kenapa Youngdoo bersikeras untuk merahasiakan semua alasannya keluar dari klub. Bagi Youngdoo, dicap sebagai seorang pengecut mungkin lebih baik daripada mendengar semua orang membicarakan bahwa dirinya tidak akan bisa menari lagi untuk selamanya.

“Kau baik-baik saja, Kak? Kakimu … kau masih bisa berjalan, bukan? Apa masih ada yang sakit? K-kau—“

“Aku baik, Mosa-ya.” Youngdoo tersenyum kecil sementara lengannya menarik tubuh Mosa dan semakin mengeratkan pelukannya. “Aku baik-baik saja.”

“Aku tidak bisa berjanji akan membantu menyelesaikan masalahmu, Kak. Tapi, aku hanya mengingatkan bahwa kau memiliku sekarang. Kau tidak akan sendirian melewati masa-masa sulit ini, Kak. Aku berjanji akan selalu berada di sampingmu, apa pun yang terjadi! Kau akan melewati semuanya, Kak.”

Lamat-lamat, Youngdoo memulas senyum sementara setetes airmatanya meluncur membasahi pipi. Namun, dia lekas menghapusnya karena tidak ingin Mosa melihatnya sedang menangis begini. Tangannya bergerak untuk menyentuh surai panjang milik gadis itu, kemudian membalas dekapannya dengan cukup erat.

“Terima kasih, Mosa-ya. Terima kasih karena selalu mendukungku. Aku … aku menyayangimu, Yoon Mosa.”

.

.

-fin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s