[Into Boys Life] Gales of Laughter

Gales of Laughter

Family , Angst , Psychology

Oneshoot

PG-15

Starring:

[Boys24] Jung Minhwan and OC Alana Jung

“Aku memang pengidap bipolar, tapi maaf saja,

aku tidak gila.”

©2017 story by Vivian

I own Alana Jung, the poster and plot. Jung Minhwan belongs to his parents.

Ketika dentingan besi beradu dengan keheningan malam, baik batin maupun raut Jung Minhwan masih setenang air dalam gelas tinggi dihadapannya, lekas menjelang suapan terakhir, ia mendapati konversasi telepon Ayahnya yang sejak beberapa menit lalu menjadi satu-satunya kegaduhan ditengah makan malam mereka. Dalam sejurus, Minhwan mendapati selera makannya labas, suapan terakhirnnya menggantung di udara. Sebelum kemudian kembali ke atas piringnya selepas ia mencium masalah yang didiskusikan Ayahnya rupanya menyangkutkan namanya.

“Ayah sudah berkonsultasi dengan dokter Park, Kau harus menjalani perawatan di luar negeri. Ayah akan mengurus hal-hal yang kau butuhkan, setelah itu berangkatlah dan jalani pengobatanmu.”

Dengan garis muka tegas pria paruh baya itu mengakhiri kalimatnya, selepas beliau meletakkan ponselnya diatas meja. Mimik wajah Minhwan berubah drastis.

“Alana, masuklah ke kamarmu.”

Minhwan menguarkan perintah halus kepada saudari kembarnya yang sedari tadi masih menyelesaikan makanannya tanpa terusik oleh pembicaraan mereka. Sejurus titah Minhwan mengudara, Alana membereskan peralatan makanannya dan pergi dalam bungkam, meski Minhwan jelas mendengar bagaimana ia menggeser kursinya keras ketika ia bangkit bersama rautnya yang membeku. Minhwan menghamburkan nafasnya mentah, membanting gelasnya yang hanya tertinggal setengah dari isinya.

“Aku tidak akan pergi kemanapun.”  Minhwan berujar singkat.

“Berhenti membantah dan pergilah, jangan membuatku naik darah hanya karenamu, Jung Minhwan! Kau tak lagi meminum obatmu Kau fikir aku tak tahu?”

Sudut bibir Minhwan meninggi. “Bagaimana jika aku tetap tidak ingin?” Ia melempar senyum menantang, menyulut amarah pria di seberang mejanya.

“Kau ini penerus perusahaan dan Kau harus menjadi pemimpin perusahaan selanjutnya! Bagaimana kau akan memimpin perusahaan dengan kondisi seperti itu, Hah!?”

Minhwan tanpa gentar membalas tatap kejam Ayahnya, ekspresinya membeku dengan sempurna. Dan diseberang sana, Ayahnya gemetar.

“Asalkan Kau tahu saja , aku tak pernah menginginkan perusahaan.” Minhwan melempar sarkasme sebelum kemudian tertawa mentah mengolok Ayahnya.

“Sialan! Kembalilah ke kamar dan minum obatmu!” tawa Minhwan meledak dalam hitungan detik, namun tatapannya mengandung getir.

“Beginikah ―Ayah memperlakukan ibu dulu?”

“Tutup mulutmu, sialan! Kau tidak tahu apapun jadi diamlah!” Sekon itu Jung Minhwan masih dengan dermawan menebarkan senyum termanisnya. Lantas ia berdiri, membawa dirinya mendekat demi menggapai tatapan goyah dari Ayahnya.

“Aku memang pengidap bipolar, tapi maaf saja, aku tidak gila.”

∞∞

Waktu masih pagi ketika Alana mendapati Jung Minhwan menuruni tangga dengan mantel disebelah tangannya. Menggenggam segelas susu, Alana berjalan mendekati kakaknya ―yang baru saja hendak meraih kenop pintu― lantas mengudarakan tanya.

“Mau kemana?”

“Kerumah Chani.” Minhwan berujar hangat, sebersit senyum melintasi wajahnya. Dilain sisi, ekspresi Alana berubah, rautnya menunjukkan ketidaksukaan.

“Ini masih terlalu pagi, tidak bisakah Kakak tinggal dirumah sebentar?” Alana berujar singkat, tanpa menyadari perubahan ekspresi kakaknya yang begitu drastis. Tatapan Minhwan membeku. Ia menghempas tangan Alana yang berusaha mencegahnya keluar cukup kasar.

“Kembalilah ke kamarmu, aku akan pulang cepat.”

∞∞∞

Alana Jung seharusnya tidak begitu saja percaya bahwa Minhwan akan pulang secepat apa yang ia katakan, karena pada kenyataannya Jung Minhwan bahkan tak menunjukkan batang hidungnya hingga sore menjelang. Kakak kembarnya itu justru muncul dari balik pintu dengan raut gusarnya kala Alana baru saja usai menyiapkan makan malam.

“Kau datang? Sudah makan malam?”

Tapi Minhwan hanya berlalu tanpa sepatah kata dari bibirnya, singgah ke toilet sebentar sebelum kemudian Alana mendapatinya telah mendudukkan diri di kursi makan. Ia mengambil makanannya masih bergeming, hingga Alana sendiri yang memutuskan membuka konversasi.

“Ayah pergi ke Jepang selama sebulan.”

Alana masih tak menemui kesuksesannya dalam menarik atensi Minhan.

“Kemana saja Kau seharian ini? Tidakkah kau tau betapa khawatirnya aku padamu? Kau bahkan tak lagi meminum obatmu―”

Kalimat Alana terpenggal dengan dentingan keras sendok dan garpu Jung Minhwan yang dengan sengaja diletakkan dengan cukup keras. Alana kembali menemui tatap dingin Minhwan, air mukanya berupah memucat.

“Kau sama saja―Kau bahkan tak pernah menganggapku normal”

Yang Alana lihat selepas itu ialah punggung Minhwan yang kian menjauh, kala ia menggigit bibirnya makin kuat. Batin Alana sesak, Ia benci mengakui bahwa kalimat Minhwan begitu pedih bahkan sejak terpantul di telinganya.

Oppa―”

“Diam.” Pria itu bertukas dingin, mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah menengadahkan kepalanya dan bersandar dengan kelopaknya memejam. Ia menghela nafas.

“Oppa please―”

“KUBILANG DIAM!”

Teriakan Minhwan menggema ke penjuru ruangan dengan intonasi gusar. Alana menutup kelopaknya yang memanas ketika ia membukanya sedetik kemudian. Pandangannya mengabur ketika ia mendapati bayangan Minhwan yang berjalan mendekat kearahnya.

“Sialan.” Jung Minhwan tersenyum timpang, menertawai dirinya yang amat menyedihkan. Dada Alana terasa semakin sesak kala Minhwan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pada jeda sunyi yang berlangsung, pria itu menarik sebuah kursi, menghadapkan dirinya persis didepan wajah Alana.

“Di dunia ini, Al, apa Kau fikir aku bahkan masih bisa berharap?” Alana mendengar suara Minhwan yang nyaris berbisik di telinganya dan ia menangkap siratan gusar di setiap kalimat yang Minhwan ucap.

Alana meringis tatkala nafas pria itu begitu terasa dari celah surai yang tergerai diatas bahunya. Sekon berikutnya, Minhwan telah benar-benar tenggelam dalam tawanya.

“Apa yang selalu kuharapkan, selalu bukanlah yang orang lain inginkan―Aku ingin hidup dengan orang yang kusayangi disisiku tapi semua orang meninggalkanku, aku masih ingin bermain dengan temanku tapi, aku justru hidup dibawah keinginan orang lain, lalu ― aku hanya ingin hidup tapi―

―tapi orang lain justru berharap jika saja aku tidak pernah ada.”

Alana tak berusaha untuk mengucap sepatah katapun. Ketika kemudian ia memutuskan untuk mengangkat kepalanya, ia menemukan Minhwan menumpu kepalanya dengan tangan, menjatuhkan tatap keatas meja. Alana tak berniat mempercayainya, tapi didalam pejaman mata Minhwan, air matanya terjatuh.

“Aku pantas mati.”

Bagi Alana, kalimat semacam itu sudah benar umum ditelinganya. Namun tetap, kalimat Minhwan masih membuat batin Alana teriris, ia meringis perih. Kakaknya telah kembali.

Menjadi seseorang yang tak bisa ia kenali lagi.

“Tak ada satupun di dunia ini yang berada disisiku, bahkan dunia inipun membuangku.”

Bagaimana Minhwan berteriak selepas itu, melempar benda-benda disekitarnya dan bahkan melukai dirinya sendiri pun, Alana hanya menyaksikannya dengan pandangan kabur, air matanya meluap. Ialah yang biasanya menenangkan kakaknya disaat-saat seperti ini tapi sekarang semuanya terasa berat. Karena itulah Alana bungkam, namun  kemudian ia berdiri melangkah perlahan mendekati kakaknya yang kini meraih vas keramik yang hampir ia lempar, Alana meraih lengannya.

“Berhentilah.” Sejurus kemudian tatap Minhwan menghujamnya dingin, seringainya menggoyahkan pertahanan Alana.

“Kau bilang apa?”

“Kau―apa kau tidak lelah?” Minhwan menjawab tanya Alana dengan gelak tawa ditengah derai air mata yang menuruni pipi pucatnya.

“Lelah katamu? Tau apa kau tentang lelah? Orang-orang hanya sibuk seperti mau membinasakanku, Kau tidak seharusnya membicarakan hal semacam itu denganku.”

  Alana membuang nafasnya mentah begitu ia sadari air matanya sekali lagi turun, ia mencoba berpaling demi menghindari tatap  kakaknya yang sarat getir tapi angin malam menghantam dinding wajahnya yang berurai air mata, semuanya semakin menyakitkan.

“Berhenti menangis.”  Minhwan bertukas dingin,, tapi gadis itu tak acuh.

“KUBILANG BERHENTI MENANGIS! KAU TIDAK DENGAR AKU?! KAU SAMA SAJA SEPERTI YANG LAIN? KAU KIRA AKU TAK TAHU?!”

“Demi Tuhan hentikan .. “

Alana memohon dengan putus asa sebelum akhirnya ia mengangkat kepala dan menemui pendar sendu dari pandangan Minhwan, pria itu terlihat menghela nafas lemah. Alana pikir semuanya sudah berakhir tapi Minhwan justru mengeluarkan wadah obat dari dalam kemejanya dan mengambil pil obat dari dalamnya dengan jumlah banyak. Alana menegang,

“Apa yang kau lakukan dengan obat sebanyak itu?” air muka Alana semakin pias, ketegangannya kian terbaca. Minhwan menatapnya sinis, senyumnya meninggi. Minhwan menenggelamkan pil-pil itu kedalam mulutnya, sebagaimana ia tenggelam dalam tawa, derai air matanya meluap. Alana mencengkeram kepalanya yang terasa berat.

“Aku ― memang gila ‘kan Al?”

∞∞∞

Alana tau, setiap hari, setiap saat sejak ia sadar bahwa emosional kakaknya adalah hal yang rapuh, yang sesekali dapat tergelincir ataupun terbang jauh dalam sekon singkat, ia akan tetap bertarung dengan hal yang sama tanpa ia bisa membantah ataupun menyalahkan keadaan. Apa yang ibunya tinggalkan untuk Minhwan tidak pernah sekalipun ia bisa pahami, meski berapa kalipun ia memikirkannya ditengah malam yang hening, dibawah lampu temaram kamarnya, atau dibalik pintu kamarnya yang terkunci seperti saat inipun, Alana selalu berakhir menyedihkan.

Alana tak berniat membukanya ketika ia mendengar ketukan lemah dari balik pintu, tetap saja,  ia kalah setelah dari luar suara lirih Minhwan memanggil namanya.

“Apa lagi?” Kakaknya tampak lesu ketika ia bertanya, tatapannya terlihat redup saat ia mengangkat kepala .

“Alana, Aku―”

“Sudahlah, lupakan.” Alana mencoba menutup kembali pintu kamarnya ketika Minhwan menahannya.

“Alana, dengarkan aku.”

“Pergi.” Tukasnya dingin masih berusaha menutup pintunya tapi kekuatan Minhwan tak menghendakinya.

“Beri aku waktu sebentar―”

“Kau bukan Jung Minhwan, pergilah!”

Alana berteriak, Minhwan seketika bergeming ditempatnya, Alana kembali menangis. Bagaimana Minhwan beberapa waktu berikutnya mendekatpun, Alana juga tau, tulah mengapa ia menjauh. Tapi pria itu meraih bahunya dan Alana jatuh di rengkuhannya.

“Lepaskan―

Kau bukan Minhwan, keparat, pergilah!”

Suara Alana berangsur tenggelam, begitu ia jatuh semakin dalam ke pelukan kakaknya yang kini berujar lirih,

“Aku Minhwan Alana― Aku Jung Minhwan ..

Maaf, demi Tuhan maafkan aku.”

Alana tak bereaksi, hanya membalas pelukan kakaknya yang bahunya bergetar. Dari balik kemeja Minhwan, Alana tersenyum tinggi.

∞∞∞

Minhwan terbangun dengan aroma usang merengsek indera penciumannya. Punggungnya terasa seperti baru saja terjatuh dari lantai duabelas sebuah gedung, seluruh tubuhnya seperti mati rasa. Minhwan merasa asing dengan semuanya, ia masih mencoba mengingat kepingan memori yang tertinggal di kepala. Namun kepalanya justru terasa pening benar, Minhwan memejamkan mata. Ia memegangi kepala bagian kanannya ketika ingatannya berhenti pada saat  keluar dari kamar dan sebuah pukulan yang amat keras mendarat pada tengkuknya. Setelahnya semua menggelap.

Segelap pakaian seseorang yang Minhwan lihat samar-samar berjalan mendekatinya. Minhwan menajamkan penglihatan,

“Sudah bangun bung?”

Minhwan menyeringai disela rintihannya, kala itu semuanya menjadi jelas. Wajah-wajah orang yang ia kenal kini berdiri didepannya dengan pandangan yang Minhwan sendiri tak mengerti. Salah satu dari mereka berjongkok tepat didepan wajah Minhwan, menatapnya bengis tanpa ampun.

“Padahal aku berharap kau tak akan bangun lagi.”

”Sialan”   Minhwan mengumpat, kala itu juga ia baru sadar sudut bibirnya terluka. Rasanya sakit ketika ia mencoba tertawa. Oh Jinseok, pria yang tengah berjongkok tepat didepannya tertawa sarkas, mengolok Minhwan.

“― ah iya Chani sepertinya mau bicara denganmu.”

Tak sampai lima sekon ketika Chani sudah memenuhi pandangan matanya. Minhwan bersumpah ingin meninju wajahnya jika saja tulangnya tidak seperti mau patah saja. Tapi Minhwan benar-benar benci ketika Choi Chani terlihat amat menikmati setiap penderitaan Minhwan.

“Kabar baik Jung Minhwan?”

“…..”

“Kau terlihat sama sekali tidak bersemangat hidup, bung.”

“Brengsek.”  Minhwan memalingkan wajahnya lantas disambut oleh udara diluar yang menguarkan aroma lapuk yang semakin menusuk. Chani tersenyum lebar, hatinya benar-benar dalam keadaan yang baik. Dalam satu tangkupan tangan, ia membawa dagu Minhwan mendongak menatapnya tepat di mata.

“Kau sudah banyak mendapat keberuntungan di dunia ini, ― itulah kenapa kau pantas mati.”

Sekonyong-konyong Minhwan dalam satu empasan melepaskan genggam tangan Chani dari wajahnya, tak sampai semenit ketika ia berhasil melemparkan botol berisi puluhan pil obat didepannya. Membuat isinya menghambur ke segala arah. Dengan sisa kekuatannya Minhwan bertitah.

“Obat itupun semuanya rencanamu, Kau fikir aku tak tahu?”

“Kau terlalu pintar, itulah kenapa aku membencimu.”

Didepan matanya Minhwan menyaksikan orang-orang berbaju hitam berbalik pergi selepas Chani memberi isyarat aku-yang-akan-bereskan-sisanya pada mereka. Minhwan mencoba bangkit berdiri, tapi rasa sakit semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, ia kembali terjatuh.

“Ayolah bung, jangan berusaha terlalu keras, duduklah yang manis, oke?” Minhwan menggigit bibir bawahnya.

“Dimana Alana?”        Chani tersenyum manis, tanpa kata.

“Brengsek dimana Alana, jika kau berani menyentuhnya aku aka―”

Right Here, Oppa

Jung Minhwan bungkam, sebuah pistol mengarah tepat di pelipisnya. Dan tepat saat itu tawa Alana mengudara di penjuru ruangan.

∞∞

 “Mereka bertengkar lagi”

“kali ini apa?”

“Ayah memintanya berobat, yang katanya demi perusahaan.”

“Lantas apa yang kau khawatirkan?”

“Sialan, selama ini aku yang harus mengurus ia dan penyakitnya itu, dan sekarang perusahaan pun akan jadi miliknya? Aku ingin tertawa rasanya.”

“Bersabarlah sedikit, pastikan ia meminum obatnya dan aku yang akan mengurus sisanya dengan yang lain.”

“Aku tak ingin mendengar omong kosong belaka, cepat bereskan pria bipolar itu.”

“You can always count on me”

∞∞

“Harusnya kau fikirkan dirimu sendiri kenapa repot-repot mengkhawatirkanku, kak?”

Minhwan meringis, pelatuk pistol itu kini menempel tepat di pelipisnya. Semuanya menjadi jelas ketika kilasan memorinya kembali terputar. Minhwan memejamkan mata, menghela nafasnya dalam sekali tarikan. Sebelum akhirnya sebuah kalimat keluar dari mulutnya, lirih.

“Dari 1-10, seberapa besar aku ingin mati, kau tahu?”

Bibir Alana membeku mengecap getir, air mukanya pias. Tapi ia masih menjawab pertanyaan kakaknya.

“Sepuluh. Kau tak punya harapan”

“Salah.” Kedua mata Minhwan terbuka perlahan, rautnya berubah amat cerah.

“Jawabannya Sembilan, Kau tau kenapa?”

Alana bergeming.

“Karena satu sisanya―

Aku ingin melihatmu mati, tepat didepan mataku.”

Dan seorang Jung Minhwan yakin, ia takkan pernah tersenyum lebih lebar dari hari ini.

end.

a/n :  firstly, aku mau minta maaf kalo cerita ini agak melenceng dari tema dan kalo cerita ini kurang menitikberatkan pada penyakit si tokoh utama. Karena dari yang aku tau dari research selama ini, kalo orang bipolar itu kebanyakan masih menjalani hidupnya dengan sangat baik dan penyakitnya juga gak setiap saat menyerang. Jadi aku mencoba masukin konflik family disamping penyakit yang diderita si tokoh utama. Dan juju raja susah sekali buat memenuhi limit 2k words itu, karena awal aku ngetik jadinya up to 3k words jadi sempat kuhapus sana sini dan ketika kubaca lagi hasilnya cukup timpang(?) tapi aku berusaha untuk memperbaiki sana sini dan jadilah kayak gini. Yah gitu sajalah, terimakasih semuanya. ―vivian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s