Into BOYS Life] Rectangular

Rectangular

Storyline by WLP

Choi Jaehyun & Ny.Choi (Jaehyun MOM)

PG-16 || Vignette || Psycology (Kleptomania), Angst, Family, AU

Disclaimer :

Ini ide cerita milik saya sendiri, Choi Jaehyun hanya meminjam nama dan karakter untuk kepentingan cerita. Mohon maaf apabila ada salah kata atau tersempil kesamaan dalam cerita.

Sumarry :

“Jaehyun tidak hanya satu kali mencuri barang milik temannya, meskipun barangnya tidak berharga, namun tetap saja itu pencurian, dan kalau dibiarkan saja itu bisa membuatnya menjadi sosok kriminal dimasa depan.”

oOo

Keadaan kelas sudah ramai, seluruh siswa sudah duduk ditempatnya masing-masing karena wali kelas mereka akan segera datang untuk mengajar pelajaran pertama dipagi hari ini.

Namun, salah satu siswa sedang terlihat tidak baik saat ini, ia terlihat bercucuran keringat dengan bahu yang sedikit bergetar seperti sedang menggigil kedinginan. Sang wali kelas yang baru saja memasuki kelas itu langsung menatap satu siswanya yang memang terlihat tidak baik-baik saja dibangku paling pojok sana.

“Choi Jaehyun? Apa kau sedang tak enak badan? Lebih baik kau pergi ke ruang kesehatan saja, tidak apa kalau meninggalkan pelajaran pertama.” sang wali kelas berkata dengan siswanya yang bernama Jaehyun tersebut.

Mendongakkan kepala, Jaehyun menampilkan senyumannya kepada sang ibu guru, kemudian berkata “Saya baik-baik saja, anda tidak perlu mencemaskan saya, Bu.”  Jaehyun berkata dengan lembut, ia menyeka keringatnya dan kembali tersenyum ketika sang wali kelas masih terus memandang kearahnya.

“Baiklah, tapi jika kau masih merasa kurang sehat, segeralah ke ruang kesehatan.”

Jaehyun mengangguk sebagai jawaban dari ucapan sang guru.

Dilihatnya sang guru sudah mulai sibuk akan pekerjaannya, ia kembali menatap sesuatu disamping tempat duduknya, atau lebih tepatnya menatap penggaris persegi empat yang berada didalam tas ransel temannya. Penggaris itu mencuat seakan ingin keluar dari tempatnya berada. Jaehyun yang melihat benda persegi empat panjang itu–kembali bercucuran keringat, bahunya mulai kembali sedikit bergetar. Rupanya penyakit itu muncul kembali. Penyakit dimana yang tidak akan sembuh jika dibawa ke ruang kesehatan, penyakit yang tidak akan sembuh jika sang penderita tidak memiliki keinginan untuk menyembuhkannya.

Baiklah, aku akan mengambilnya.

Ia akhirnya bertekad untuk mengambilnya, mengambil penggaris persegi empat disampingnya, perlahan namun pasti. Hingga akhirnya penggaris tersebut sudah berada digenggeman tangannya, ia menyembunyikannya dikolong meja agar tidak ada yang tau jika ia mengambil penggaris tersebut dari dalam tas temannya tanpa izin, atau bisa disebut dengan mencuri.

oOo

Suasana ruang tamu kediaman keluarga Choi saat ini sedang tegang, tidak ada percakapan lagi antara ibu dan anak lelaki itu setelah bentakkan demi bentakkan tadi sudah Ny.Choi lontarkan kepada putra semata wayangnya.

Sedangkan sang putra hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia tau ia salah, maka dari itu ia lebih memilih diam menerima bentakkan sang ibu karena kesal dengan tingkah lakunya saat disekolah.

“Berkemaslah, besok ibu akan mengirimmu ke Los Angeles, tinggal lah bersama ayahmu saat berobat disana selama tiga bulan.” setelah mengucapkannya, ibu Jaehyun berlalu meninggalkan anak semata wayangnya, membiarkan anaknya itu berdecih pelan dengan ekspresi wajah yang sangat sulit untuk di artikan.

Penyakit yang sedang ia derita sungguh menyakitkan, menyakitkan untuk kehidupan sehari-harinya. Bahkan penyakit itu sudah membuatnya dikeluarkan dari sekolah untuk yang entah keberapa, ia terlalu sering dikeluarkan dengan kasus ‘Mencuri barang milik teman’. Barang yang memang tidak berharga sama sekali, namun pihak sekolah tetap mengeluarkannya dengan alasan “Jaehyun tidak hanya satu kali mencuri barang milik temannya, meskipun barangnya tidak berharga, namun tetap saja itu pencurian, dan kalau dibiarkan saja itu bisa membuatnya menjadi sosok kriminal dimasa depan.”

Jaehyun beranjak dari sofa, ia berjalan menuju kamarnya yang terletak dilantai dua, ia berjalan dengan sambil memikirkan suatu hal. Ia tidak bisa pergi kesana, ke Los Angeles seperti yang tadi ibunya perintahkan. Ia tidak bisa tinggal disana dengan ayahnya, ayahnya yang bahkan sangat membencinya karena penyakit itu. Dan sayangnya.. Penyakitnya hanya bisa disembuhkan disana, dinegara tempat ayahnya tinggal saat ini–dengan selingkuhan ayahnya.

oOo

Jaehyun berjalan tanpa arah, ia berjalan sudah sangat jauh pergi dari rumahnya. Dan sialnya ia sekarang tidak tau akan kemana dan akan menidurkan diri dimana saat larut malam seperti ini.

Ingin menelpon teman dan meminta bantuan, tidak bisa. Ia tidak memiliki teman barang satupun, entah itu disekolah lamanya, ataupun disekolah-sekolahnya yang lain.  Ia terlalu cepat meninggalkan sekolah walau belum genap satu bulan bersekolah disana. Salahkan penyakitnya tentang ini, sehingga ia tak punya teman untuk menginap disaat kabur dari rumahnya seperti saat ini.

“Aku harus berjalan kemana lagi?” Jaehyun mendesah frustasi, ia mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Hanya demi menghindari suruhan ibunya lah ia keluar dari rumah malam-malam seperti ini.

Berjalan terus tanpa arah hingga ia merasa letih dan memilih untuk duduk dipinggiran trotoar tempat ia berdiri saat ini.  Diambilnya botol mineral di tas ransel yang berada dipunggungnya, meneguknya rakus lalu mengembalikannya ketika dirasa tenggorokannya sudah basah kembali.

Ia mendongak memperhatikan pertokoan dihadapan, matanya memicing mencoba menajamkan penglihatannya saat ia melihat toko buku diseberang sana.  Senyumannya mengembang sempurna dan tubuhnya ia bangkitkan lagi untuk kembali berjalan agar segera sampai kedalam toko buku yang masih buka diseberang sana.

Setidaknya, ia bisa membaca buku disana untuk menghibur, atau mencari pencerahan agar pikirannya kembali jernih.

“Selamat datang ditoko buku kami, kami buka 24 jam jadi nikmatilah waktu membaca anda.” Sang penjaga kasir menyapa dengan ramah ketika Jaehyun baru saja memasuki toko buku tersebut.

Kemudian ia berjalan ketempat susunan beberapa buku komik, ia memilih membaca komik karena dirasanya mungkin cerita bergambar itu bisa sedikit menghilangkan kekalutan hatinya saat ini.

Ia terus membaca komik digenggamannya dengan sesekali tertawa ringan terbawa suasana cerita didalam komik.

Namun, tiba-tiba netranya menangkap sesuatu yang tak asing ketika ia sedikit menundukkan wajahnya.  Bahunya bergetar, keringat turun melewati pipi tirusnya.

Benda itu… Ia melihatnya lagi, benda persegi panjang dan memiliki beberapa huruf sebagai pengukur—penggaris.

Tangannya dengan lihai mengambil benda itu, mengambilnya dua biji dari tempatnya.  Matanya melirik kesana-kemari dengan waspada, takut-takut ada yang melihatnya.

Dengan terburu-buru ia memasukkan kedua penggaris yang ia ambil itu kedalam ranselnya, hingga tanpa disengaja salah satunya terjatuh kelantai sampai menciptakan bunyi sedikit nyaring dan dapat menarik perhatian pemuda didekatnya yang sedang membaca, pemuda itu melirik sekilas, melihat gelagat Jaehyun yang tergesa-gesa memasukkan penggaris hasil curiannya.  Dengan sigap pemuda itu mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa nomor lalu menelfonnya.

———

Disinilah Jaehyun saat ini, didalam ruangan pengap nan gelap yang hanya disinari lampu bolam kecil diatas kepalanya, dan tentu dengan dua orang polisi yang salah satunya duduk dihadapan Jaehyun dengan satu meja kotak besar berada ditengah-tengah mereka.

“Apalagi yang kau ambil selain dua penggaris itu?” sang polisi bertanya, tak lupa matanya memancarkan ketajaman, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa takut.

“Tidak ada.” jawab Jaehyun singkat

“Jawablah dengan jujur!” sang polisi membentak sehingga membuat Jaehyun terjengkit kaget.

“Aku benar-benar hanya mencuri penggaris tidak berharga itu! Tidak lebih!”

Plak!

Satu tamparan mendarat  mulus dipipi Jaehyun, membuat kulit putih itu memerah tercetak tangan sang polisi satunya yang berada disamping kiri Jaehyun.  Tatapan mata Jaehyun memancarkan rasa tidak suka, ia ingin balas menampar jika saja kedua tangannya sedang tidak diborgol.

“Dimana komik-komik yang juga kau curi itu?” kembali polisi dihadapannya memberi pertanyaan.

“Sudah kubilang aku hanya mencuri penggaris saja! Komik-komik itu bukan aku yang mencurinya! Tapi pria yang menelpon kalian itulah! Aku dijebak! Aku dije–”

Plak!

Kini bukan hanya memerah, tapi bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar sedikit demi sedikit.

“Bawa dia ke sel, kurung dia disana selama lima bulan.” polisi dihadapan Jaehyun beranjak dari kursinya setelah memerintahkan anak buahnya yang berada disamping kiri Jaehyun, menyuruh anak buahnya untuk memenjarakan Jaehyun sekarang juga.

“Sudah kubilang aku dijebak! Apa kalian tuli!” Jaehyun terus mengoceh dengan lengannya yang ditarik paksa polisi untuk masuk kedalam tahanan.

Disisi lain, Ny.Choi datang dengan terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari kantor polisi bahwa anaknya ditangkap karena kasus pencurian.

Ia memijit pelipisnya setelah berbicara pada ketua kepolisian ditempat—untuk mau membebaskan anaknya. Polisi itu menolak, tidak bisa membebaskan Jaehyun sebelum lima bulan kedepan. Itu sudah peraturan, dan kepolisian tidak bisa melanggarnya begitu saja meskipun dengan beribu-ribu alasan wali dari pelaku kriminal.

Ny.Choi menghampiri putranya yang berada didalam sel sedang meringkuk kedinginan, ia ikut berjongkok mensejajarkan dihadapan anaknya, dielusnya rambut gelap Jaehyun dengan sayang, walaupun sedikit tidak leluasa karena besi panjang sel.

“Maafkan ibu, ibu tidak bisa membebaskanmu sekarang juga …”

“Ibu…” mata Jaehyun berkaca-kaca, ia menyesali tindakkannya hari ini, tindakkan yang sangat egois dan kekanak-kanakan.

“Tenang saja, kau tidak akan berada lama disini Jaehyun-ah.. Polisi memberikan keringanan karena kau masih dibawa umur, kau akan bebas dalam lima bulan kedepan.” jelas Ny.Choi dengan airmata yang mengalir dipipinya, ia merasa gagal menjadi seorang ibu, sehingga anaknya berada didalam tahanan seperti ini, anaknya harus tidur tanpa alas dan selimut dimusim dingin seperti ini.

“Tapi ibu akan terus berusaha agar kau cepat keluar dari sini, jadi bersabarlah ya sayang..”

Jaehyun mengangguk dengan tangisan yang pecah begitu saja, melihat ibunya menangis, membuat Jaehyun menyesal.

Seharusnya sedari dulu saja ia menerima perintah ibunya untuk segera berobat diluar negeri, dengan begitu ia tidak akan keluar masuk sekolah baru, lalu mungkin ia tidak akan berada dipenjara seperti ini, dan ia tidak akan melihat ibunya menangis karena nya seperti ini.

Namun, semuanya sudah terjadi. Karena keegoisan Jaehyun yang tidak mau tinggal dengan ayahnya itulah penyebab semua ini terjadi, semuanya karena keegoisan Jaehyun.

Mungkin setelah kejadian ini, Jaehyun akan memperbaiki semuanya, ia akan pergi ke Los Angeles untuk berobat, dan ia akan melupakan keegoisannya sebentar untuk mau tinggal bersama ayahnya disana. Ini demi kebaikannya, demi kebaikannya dan juga agar ibunya bahagia melihat penyakit Kleptomania nya sembuh.

~ Finish ~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s