[Ficlet-Mix] Urban Legend; That Place

jihyeonjee98 & Shannellerush present

THAT PLACE

Urban Legend;

That Place

“Every place had their own secret.”

[1st]

3 A.M.

Hocheol x Horror

Jika berbicara soal Jepang, memang banyak sekali hal yang amat menarik di negeri sakura ini. Mulai dari budayanya, musik, life-style, bahkan kisah masyarakat yang menjadi legenda dan sedikit tabu untuk diperbincangkan. Chae Hocheol, seorang lelaki muda yang memiliki sejuta rasa penasaran dalam benaknya, bahkan, lelaki itu memiliki moto hidup yang sekiranya selalu memotivasi langkahnya, ‘apapun yang membuatmu penasaran, maka kejarlah’. Yah, berbeda cerita jika dia penasaran mengenai hal yang berbau obat terlarang. Itu tidak tercatat dalam kamus tebal rasa penasarannya, omong – omong.

Singkatnya, Hocheol sedang mencari sebuah hotel di ujung strip jalan negara yang tenang—di Tokyo Barat. Berterimakasihlah pada sosok dibalik artikel ‘Urband Legend, 3 A.M’ yang kini sudah amat sukses membuat rasa penasaran Hocheol menggebu bahkan membuatnya tanpa pikir panjang membeli tiket pesawat dan terbang dengan sejuta rasa penasarannya. Memang sih, legenda urban hanyalah sebuah legenda, sebagian orang akan berpikir hal tersebut hanya sebuah karangan untuk menakuti sesama, namun tak jarang pula ada yang menganggap legenda urban adalah sebuah kisah nyata—atau mungkin akan terjadi.

Sebelumnya Hocheol tidak pernah sebegitu tertariknya dengan legenda urban. Biasanya, Hocheol lebih tertarik pada hal – hal yang berbau science, seperti bagaimana bisa terjadi reaksi dekomposisi hidrogen peroksida karena dikatalisis oleh kalium lolida, atau bagaimana bisa natrium polyakrilate akan menghasilkan padatan gel jika direaksikan dengan air. Hal – hal seperti itulah yang bisa membuatnya berada di lab selam seharian penuh tanpa perduli perut tengah meronta. Tapi, bisa saja seseorang itu berubah,  bukan?

Di penghujung jalan, nampak sebuah hotel dengan dinding dengan cat yang sudah terkelupak, lampu yang menyinari bagian hotel juga dengan kondisi yang tidak baik—sesekali hidup sesekali mati, dan begitu seterusnya. Secercah senyuman nampak pada wajah Hocheol, “Akhirnya kutemukan juga kau, hotel 3 A.M.” Well, nama hotel itu bukan hotel 3 A.M.,  tapi karena legenda urban yang dibaca Hocheol pagi tadi. Lokasi sekitar hotel tampak sepi, bahkan tidak ada satupun sosok manusia yang menapaki tungkainya ke arah jalan menuju hotel. Wajar saja, legenda urban memang membuat segalanya nampak nyata.

Hocheol mendorong pintu kaca yang disambut oleh suara bel lonceng yang terletak di atas pintu. Sedikit terkejut, hotel itu benar – benar sepi. Tak terkecuali si resepsionis yang sedikit membulatkan maniknya kala ada sosok manusia yang bertandang ke hotel—seperti baru pertama kali melihat pengunjung dalam kurun waktu bertahun – tahun lamanya.

“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” sapa resepsionis ramah, wajahnya digeluti dengan senyuman.

Hocheol melirik sekitar, “Eum, itu. Apakah ada yang pernah menginap disini?”

“Hanya sekedar singgah, tuan.”

Hocheol sedikit mengerjit, “Kalau begitu aku ingin memesan kamar yang jendelanya langsung mengarah ke luar.”

“Hm?” resepsionis itu bergidik, sedikit menaikkan alisnya terheran. “Apa kau yakin akan meme—”

“Sangat yakin.” Hocheol memotong percakapan tersebut dengan amat-sangat-yakin.

Resepsionis itu hanya terdiam, meski selanjutnya dia tetap meminta data diri Hocheol dan juga nomor induk penduduknya. Tidak lupa, resepsionis itu menyuguhkan sebuah kunci bergaya klasik diselimuti dengan warna emas dengan bau besi lama yang khas. Terdapat sebuah gantungan dengan warna merah pada kunci tersebut, 3 buah angka tertulis pada gantungan tersebut, ‘303’. Hocheol mengerjit sambil sedikit terkikik, “Yah, ini dia.”

Hocheol hendak menuju kamarnya, “Tunggu tuan—” saut resepsionis itu kala Hocheol hendak melangkahkan tungkai. Hocheol berbalik dengan alis mengerjit seakan berkata, ada apa?

“Jangan pernah melihat keluar jendela pada pukul 3 pagi, tuan.” Kata resepsionis itu dengan nada suara yang sedikit bergetar. Menjungkitkan alisnya sebelah, Hocheol tidak terlalu mengindahkan peringatan dari resepsionis itu. Dalam benaknya kini hanya ada satu tujuan, memuaskan hasrat penasarannya akan kamar hotel yang akan menjadi tempatnya menghabiskan malam. Dengan tenang dan tidak tampak sedikit raut kegugupan, Hocheol menekan tombol lift dengan tanpa panah menghadap keatas, meski tak berselang sepersekian detik, pintu lift terbelah dua, meyapa Hocheol dan segera mengantarkannya ke tujuan.

Tanpa basa – basi, Hocheol menghempas tubuhnya di atas lautan kapuk yang—lumayan empuk, bisa dikatakan begitu untuk hotel yang jarang dihuni. Tidak lupa, Hocheol memasang alarm di ponselnya pukul 3 pagi. Entah apa yang akan dilihatnya nanti, Hocheol sudah mempersiapkan diri.

.

Alarm Hocheol berbunyi. Kala itu pula dirinya terbangun dan sejemang terdiam mendapati kamarnya amat berantakan dan berbau anyir, belum lagi siluet hitam di dinding membuatnya sedikit bergidik ngeri. Perlahan, Hocheol membalikkan tubuhnya kearah jendela—

“KYAAAA!!!” Teriaknya mendapati tubuh manusia tengah tergantung di salah satu dahan pohon yang besar. Hocheol gemetar. Jemarinya gemetar dan maniknya membola. Perlahan tubuh itu berputar. Terus berputar hingga kini tubuhnya menghadap kearah jendela. Ia menatap Hocheol dengan amat dalam hingga salah satu bola matanya terjatuh dan membuat Hocheol sekali lagi berteriak 4 oktaf. Tidak lama, mayat itu berada di hadapan Hocheol, tertawa seraya membawa bola matanya disalah satu tangannya. “Kau, bisa pasangkan bola mataku?”

Berteriakpun rasanya sia – sia, Hocheol dengan segera menggendong tasnya dan beranjak pergi dari hotel tersebut.

.

Hocheol masih merasa hal yang ditemuinya dini hari tadi adalah bagian dari mimpi. Setelah mentari muncul di ufuk timur, Hocheol kembali menuju hotel yang terletak di penghujung jalan sebelah barat Tokyo. Meski yakin dengan lokasinya, Hocheol sama sekali tidak menemukan hotel ataupun penginapan, yang hanya tanah kosong dan juga pemakaman umum disebelah selatannya.

.

.

“Jadi, semalam aku tidur dimana?”

 

[2nd]

WOOD

Inpyo x Creepy

Inpyo tahu, harusnya ia tidak pergi ke tempat ini.

Namun karena rasa penasarannya yang terlampau besar, Inpyo memberanikan diri untuk masuk ke dalam hutan. Ada sebuah mitos yang dipercaya oleh orang-orang di sekitar desa tempat tinggal Inpyo. Katanya, jika sudah masuk ke dalam hutan ini maka tidak akan bisa keluar. Tampaknya mitos itu salah, buktinya, sekarang Inpyo sudah menemukan jalan keluar dari tempatnya masuk tadi. Perlu diketahui, mitos itu tidak semuanya benar.

Saat Inpyo akan melangkahkan kakinya kembali¾setelah terdiam beberapa saat, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang begitu merdu hingga membuat Inpyo terhipnotis. Perlahan, laki-laki itu mengikuti arah suara tersebut tanpa sadar. Sepertinya suara merdu ini berasal dari nyanyian peri hutan, pikir Inpyo. Inpyo terus menyurusui hutan ini, entah mengapa suara itu semakin lama semakin nyaring dan membuat Inpyo terlena¾bahkan lupa diri.

Inpyo tahu, harusnya ia tidak mengikuti suara ini.

Namun, manusia mana yang akan tahan mendengar suara merdu nan menarik hati ini? Semua yang mendengarnya pasti akan merasakan hal seperti Inpyo. Berjalan mengikuti alur nyanyian sang empunya suara.

Tak ada yang salah memang dari hutan ini. Hutan ini terlihat sangat nyaman untuk digunakan berjalan-jalan santai atau sekadar piknik bersama keluarga. Pohon-pohon besar tumbuh menjulang hingga menciptakan refleksi sinar mentari. Lengkap sudah pemandangan hutan ini. Ada pohon-pohon besar, sinar mentari, rerumputan, dan… tunggu dulu…. satu hal yang tak ada di hutan ini. Mengapa tidak ada satu pun makhluk hidup dalam hutan ini selain dirinya? Sayang sekali bila hutan ini tidak ada yang menempati. Sepulang dari sini, Inpyo akan mengajak warga desa untuk mengunjungi hutan ini dan memberitahu bahwa tak ada yang perlu ditakutkan disini.

Inpyo masih menikmati nyanyian merdu ini, kini matanya tertutup rapat-rapat, guna memaknai setiap iramanya. Percayalah suaranya benar-benar menghipnotis. Dan Inpyo terus berjalan menyusuri hutan yang luas ini.

Inpyo tahu, harusnya ia segera keluar dari tempat ini.

Tapi, ia tidak dapat menolak suara indah ini. Terlalu indah untuk ditinggalkan.

Hingga pada akhirnya, Inpyo tiba di sebuah danau besar dengan kabut putih disekelilingnya. Tepat pada saat itu, nyanyiannya pun berakhir dan Inpyo langsung membuka mata. Betapa terkejutnya lelaki itu ketika mendapati dirinya berada di tempat ini. Pasalnya, pemandangan ini berbeda dengan apa yang ia lihat sebelumnya.

Lucu sekali. Bagaimana mungkin hutan yang indah berubah menjadi tempat menyeramkan seperti ini? Kabut putih dimana-mana dan hawa dingin terus menyeruak, membuat Inpyo merinding. Dan perlu diketahui, Inpyo kini berada di tepian danau besar berwarna biru. Untung saja nyanyiannya cepat berakhir, kalau tidak, mungkin  Inpyo sudah tenggelam.

Baru kali ini Inpyo merasakan kegelisahan dan ketakutan disaat bersamaan. Keringat dingin langsung mengucur begitu saja. Oh, baiklah, yang harus Inpyo lakukan sekarang adalah mencari jalan keluar dan segera kembali ke rumah. Namun, saat Inpyo akan berbalik, tiba-tiba kakinya seperti ada yang menarik hingga membuat Inpyo terjatuh.

Oh, sial. Ini mimpi buruk. Tolong bangunkan Inpyo sekarang.

“Tidak. Tolong, tolong!”

Jerit Inpyo sambil mecoba menyelamatkan diri. Rerumputan disekitarnya, ia genggam kuat-kuat untuk menyelamatkan dirinya dari maut. Tapi sepertinya tangan yang kini menyeret Inpyo ke dalam danau lebih kuat dibanding dengan kekuatan Inpyo untuk menyelamatkan diri.

Jeritan demi jeritan terus Inpyo koarkan, berharap ada orang yang mendengar dan menyelamatkan Inpyo.

Well, seberapapun kekuatan yang Inpyo keluarkan sepertinya itu akan sia-sia saja, karena tangan itu terus menarik Inpyo hingga tubuhnya hilang dan tenggelam dalam danau.

Inpyo membuat kesalahan besar dengan memasuki hutan ini. Hutan ini merupakan hutan larangan. Orang yang masuk kemari tidak akan pernah kembali, mereka akan mati. Orang-orang yang terjebak di hutan ini berusaha untuk mencari bantuan lewat sebuah senandung merdu yang membuat siapa saja akan terhipnotis dan masuk ke dalam hutan. Hingga pada akhirnya, nasib mereka akan sama dengan nasib orang-orang itu.

Mitos itu terkadang ada benarnya, tidak bisa dianggap sepele. Dan, oh… yang Inpyo harus ketahui lagi, hutan ini merupakan sebuah gerbang menuju dunia bawah tempat para iblis berasal.

-FIN-

Note:

jihyeonjee98:

  1. GWE BALIK DENGAN KOLAB SAMA MBAK SHELL DUH KANGEN LAPAK AKUTU KANGEN BANGET /gampar/
  2. Jadi ini tercetus dari akutu yang pengen kolab sama mbak shell sekalian kambek, ya ga mba? /iyain aja biar palli/
  3. Lagi kangen hocheol juga masa pengen nistain tapi gatega 😦
  4. btw cerita gwe tuh not clearly the urban legend but gwe menciptakan sendiri(?) yaudahlah iyain aja biar palli.
  5. NOTE DARI MBAK SHELL KAGA ADA YA UDAH SAYA MUSNAHIN ORANGNYA HABIZ KEZEL BHAY

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk “[Ficlet-Mix] Urban Legend; That Place

  1. MBAKJI TU LAGI ADA MOOD BUAT NGERUSUH, IYA GAK MBAK? /iyain aja ya/ Abis teh aku bingung kali mbak mau note apaan, padahal kemaren sudah terpikirkan cuma lupa ngetiknya /yampun ini mah kebiasaan banget/ btw met kambek ya mbak, lain kali kolab lagi kuy

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s