[Ficlet-Mix] Urban Legend; That Place

jihyeonjee98 & Shannellerush present

THAT PLACE

Urban Legend;

That Place

“Every place had their own secret.”

Lanjutkan membaca “[Ficlet-Mix] Urban Legend; That Place”

Iklan

[Into BOYS Life] EYES

tumblr_o9v9gvDXWo1u82aceo1_400

E y e S

Chae Sibling |Angst, Tragedy | G | Ficlet

.

“Kau bilang kau akan pergi ke toko itu.”

“Benar, aku akan pergi.”

“Lalu, mengapa kau masih diam di sini? Lampu hijau hanya menyala 30 detik.”

“Aku akan pergi kalau toko itu pindah di blok apartemen kita.”

Terkadang aku tidak mengerti, tungkaiku hanya mampu berjalan hingga sejauh ini dan akan berhenti kala menjumpai garis putih dan hitam yang menjadi pemisah jalan yang ku tuju. Apakah aku…. Gila?

.

.

Kisahnya bermula saat lelaki berponi itu berusia tujuh tahun

.

.

.

.

Sebuah karunia Sang Pencipta hadir dalam dirinya

.

.

.

.

.

Matanya…

.

.

.

.

Menjadi saksi atas ajal ibunda, dan juga dirinya nanti…

.

.

.

“Bisakah kau membeli ini semua?” Hocheol menyerahkan secarik kertas yang berisi bahan-bahan makanan yang akan diolahnya hari ini. Musim gugur yang sejuk pertanda bahwa musim dingin akan segera menyambut kota Seoul, semangkuk sup kimchi di pagi hari mungkin saja dapat menghangatkan tubuh yang sebentar lagi akan beradu dengan rendahnya temperatur kota.

Lisa mengambil secarik kertas tersebut seraya perlahan membaca isinya. Senyuman terjungkit di ujung bibir Lisa lantaran tidak hanya bahan-bahan untuk membuat sup kimchi yang ada di sana, tetapi makanan kesukaan Lisa sepanjang masa—5 bungkus ramyeon.

“Ini uang untuk belanja, dan…” Hocheol merogoh dompet yang berada disakunya lantas mengeluarkan beberapa lembar won dan memberikannya pada Lisa, “…uang untuk naik bis. Aku belum sempat mengisi ulang bus-card, atau kau juga bisa naik taxi, itu lebih aman.”

Lisa mengambil uang tersebut dan seraya memasukkannya ke dalam saku baju hangatnya, “Aku akan mengambil uangnya, tapi… aku tidak akan naik bis atau  taxi hari ini.”

“Lalu? Apa Changmin yang akan mengantarmu?”

“Aku akan sedikit berolahraga ha—”

Sejemang Hocheol terdiam lantaran nalarnya terlebih dahulu tahu kata pun kalimat apa yang akan Lisa lontarkan, lelaki itu menyela, “tidak. Pergilah dengan bis.”

“Tapi aku…”

“Cepat!”

Tanpa sedikitpun memberontak, Lisa meninggalkan apartemen dengan wajah yang sedikit cemberut serta jemari yang mengepal—lumayan—kuat.

Sesungguhnya, jarak antara supermarket dan apartemen memanglah tidak terlalu jauh. Jika menaiki bis, Lisa hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5-7 menit untuk sampai, karena supermarket itu terletak di persimpangan jalan 2 blok dari apartemen Lisa. Namun Hocheol agaknya sedikit posesif, selain memanfaatkan halte yang ada di dekat apartemennya, Hocheol tidak ingin lagi mengulangi kejadian yang membuatnya enggan untuk pergi ke persimpangan.

10 tahun lalu, saat Hocheol melihat kematian ibundanya…

“Ibu, tidak bisakah kita tidak pergi?”

“Ada apa, Hocheol?”

“Ada kecelakaan dipersimpangan, bu.”

Ibu menghiraukanku. Dia tetap bersikeras melewati persimpangan itu demi membelikanku kue ikan di seberang jalan itu. Aku terus melihat Ibuku tergeletak di jalan hitam bergaris putih itu. Kepalanya terluka, darahnya menyebar membuat garis putih yang harusnya bersih menjadi merah, mengotori baju putih yang sudah berubah warna. 

“Ibu, bagaimana jika kita pergi besok saja?”

“Kita hanya tinggal menyebrang jalan, Hocheol-a,  jadilah pemberani.”

“Tapi ada kecelakaan Ibu.”

Lampu hijau penyebrang menyala, tanpa berfikir panjang aku berlari terlebih dahulu, berharap Ibuku akan mengikutiku berlari dan Ibuku terhindar dari kecelakaan itu.

Tapi ternyata aku salah, semua karenaku…

Ibuku menjemput kematiannya karenaku.

Hocheol melihat keluar jendela, melihat hiruk pikuk kota Seoul yang selalu ramai dengan manusia dan juga kendaraan. Hingga pengelihatan itu kembali, membuat Hocheol bergeming lantas maniknya meneteskan air mata. Segera Hocheol mengambil baju hangatnya dan berlari ke persimpangan, berulang kali pengelihatan  itu melintas, tanpa sengaja kembali menorekan luka lama yang sempat Hocheol rasakan.

Meski kini Lisa sedang tersenyum diseberang sana, melambaikan tangan seolah menyadari presensi Hocheol diseberang jalan. Sedikit menyembuhkan luka, kendati dalam asa Hocheol masih takut, jalan yang dipenuhi dengan genangan kematian.

Merah telang berpaling, digantikan oleh si hijau bergambar rupa manusia. Berombong-rombong insan tiap penjuru menyebrang jalan, tanpa terkecuali Lisa, menyebrang jalan dengan tangan melambai dan senyumnya yang merekah. Kendati di lain arah Hocheol sama sekali tidak membalas, pengelihatannya masih mendapati Lisa bersimbuh dengan darah. Tungkainya hendak melangkah pada hitam bergaris putih itu, namun tanpa angin pun badai Hocheol berkeringat, matanya berkunang diikuti dengan pengelihatannya yang semakin kabur, serasa semua manusia tengah berputar mengelilinginya. Tak lama Hocheol tumbang, merintih kesakitan padahal tidak ada yang terjadi padanya. Jemarinya berusaha meraih Lisa yang tampak khawatir di sisi jalan, hendak berlari menjemput Hocheol yang tumbang—

Bruk!!

.

.

.

Naas, Lisa terpental hingga berguling jauh, dan Hocheol melihat dengan mata kepalanya sendiri.

.

.

.

Aku membunuh seseorang, lagi.”

-fin

 

Note:

DRAMA ELAH INI DRAMA BENER KUDU BANGET MEWEK POKOKNYA KUDU BANGET 😦 Btw inituh Agryophobia jadi ini fobia menyebrang jalan raya gitu. HONESTLY ini pertama kali tau ada penyakit macam ini(?) jadi ji kudu bersemedi buat nemu plot meskipun hasilnya drama gini. Pokoknya, Hocheol always be mine deh eungeung….